Akankah Penantian Panjang Brasil Untuk Kembali Juara Berakhir di Piala Dunia 2026? 

Akankah Penantian Panjang Brasil Untuk Kembali Juara Berakhir di Piala Dunia 2026?

Brasil sedang menghadapi masa krisis identitas sembari terus terseok-seok mengatasi jeda tanpa juara terpanjang dalam sejarahnya sebagai negara sepak bola. Mulai dari keajaiban hingga air mata, inilah kisah tentang kekuatan super sepak bola yang masih mencari jati diri dan bintang baru yang mampu mengangkat nama baik negeri Samba ini.

Piala Dunia biasanya diwarnai dengan ketidakpastian, dan inilah yang membuat seluruh edisi Piala Dunia menarik. Namun, Piala Dunia 2026 akan datang dengan penuh kepastian. Bagi Brasil, Piala Dunia 2026 akan menjadi titik balik dalam sejarah bahwa skuad asuhan Carlo Ancelotti. Kemungkinannya adalah mereka akan meraih gelar keenam yang telah lama mereka nantikan, atau mencetak rekor paceklik gelar terlama yang pernah dialami Brasil.

Genap 24 tahun sudah sejak Brasil terakhir kali juara Piala Dunia pada 2002 silam. Itu merupakan jeda yang sama panjangnya dengan gelar juara Piala Dunia 1970, yang dimenangi oleh tim menampilkan Pele, Jairzinho, Gerson, Rivelino, Tostao, dkk., dari kemenangan di Piala Dunia 1994. 

Ada lima Piala Dunia beruntun di mana Seleção gagal mengangkat trofi. Perhitungannya cukup sederhana. Apabila puasa gelar Piala Dunia masih berlanjut di Amerika Utara kali ini, di lokasi yang sama ketika tendangan penalti Roberto Baggio nyasar di atas mistar gawang; maka puasa gelar juara akan bertambah menjadi 28 tahun. Brasil harus kembali menunggu hingga empat tahun ke depan untuk meraih gelar Piala Dunia, atau sama dengan gagal juara di enam Piala Dunia secara berturut-turut. 

Brasil belum pernah menunggu selama ini untuk meraih gelar juara Piala Dunia. Piala Dunia digelar pertama kali pada 1930. Meski trofi pertama Brasil tiba pada Piala Dunia 1958, skuad Samba itu sebenarnya mulai bermimpi untuk mengangkat trofi mewah tersebut pada 1950, saat mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk kali pertama. 

Hanya delapan tahun yang memisahkan adegan Pele muda menghibur ayahnya yang menangis setelah mendengar ‘Maracanazo’ di radio, hingga ia tak kuasa menahan air mata kebahagiaan bersama Nilton Santos setelah Brasil menang atas Swedia pada babak final Piala Dunia 1958.

Sejak gelar pertama itu, Brasil semakin identik dengan sepak bola berkat operan, dribbling, gol, dan gaya khas mereka. Jersey kuning menjadi simbol olahraga yang paling dikenal dan dihormati di dunia. ‘Negara sepak bola’, ‘Jogo Bonito’. Mereka langsung menambah gelar kedua pada Piala Dunia 1962 dan kegagalan pada Piala Dunia 1966 hanya berlangsung empat tahun, sebelum bangkit untuk balas dendam pada tahun 1970, yang sekaligus mengukuhkan posisi Brasil sebagai raja sepak bola dan Pele dinobatkan sebagai pemain terhebat sepanjang masa. 

Puasa gelar yang agak lain

Namun, di mana letak perbedaan antara dua periode paceklik gelar yang sama-sama berjarak 24 tahun ini? Kita berbicara tentang siklus atau lima edisi turnamen yang sama, tetapi perbedaan antara kedua periode tersebut sangat mencolok. 

Tak dipungkiri bahwa periode saat ini jauh lebih buruk. Era pasca-Penta jauh lebih merusak citra dan harga diri sepak bola Brasil dibandingkan kejadian sebelumnya. 

Saat Brasil masih beradaptasi dengan kehidupan pasca-Pele pada Piala Dunia 1974, mereka kalah dari Belanda yang saat itu berada di bawah asuhan Rinus Michels dan Johan Cruyff. Meski Argentina juara Piala Dunia 1978, Brasil pulang dengan rekor tak terkalahkan alias ‘juara moral,’ setelah tersingkir akibat selisih gol di pertengahan pertandingan Argentina melawan Peru.

Pada Piala Dunia 1982, skuad Brasil mendapatkan tempat istimewa dalam sejarah. Seperti ‘Magical Magyars’ Hungaria tahun 1954 dan Belanda asuhan Cruyff, mereka tetap mengguncang dunia meski gagal meraih gelar juara Piala Dunia. Kekalahan dari Prancis melalui adu penalti pada Piala Dunia 1986 memang mengecewakan, tetapi tidak memalukan. Siapa yang bisa menghentikan laju Diego Maradona pada tahun itu? Di sisi lain, kekalahan dari Argentina pada Piala Dunia 1990 merupakan sebuah penderitaan, tetapi setelah itu, mereka langsung balas dendam dengan meraih gelar juara Piala Dunia 1994.

Terlepas dari momen frustasi yang harus dirasakan Seleção pada 1974 hingga 1993, citra diri sepak bola Brasil tetap membanggakan, bukan arogan. Memenangi gelar juara Piala Dunia tidaklah mudah, dan olahraga ini memang lebih sering memberikan kekecewaan daripada kejayaan. 

Walaupun demikian, skuad Samba masih bisa berkaca dan melihat para pemain terbaik berkompetisi di tanah kelahiran mereka. Itu merupakan sesuatu yang mulai berubah drastis setelah putusan Bosman 1995 yang membuka jalan bagi para bintang Amerika Latin untuk pindah ke Eropa secara permanen.

Pada kenyataannya, para pemain Brasil menghabiskan tahun-tahun terbaik mereka di luar negeri. Suatu hal sulit sekali diubah untuk saat ini akibat berbagai faktor di luar olahraga itu sendiri. Namun, ini adalah pukulan telak yang memperdalam beban paceklik juara Brasil. Asal tahu saja, kualitas sepak bola domestik di Brasil justru baru saja meningkat tanpa pemain-pemain terbesarnya.

Kegagalan demi kegagalan 

Piala Dunia 2006 merupakan edisi pertama di mana sekitar 80 persen dari skuad Brasil bertanding di Eropa. Sebelum turnamen itu dimulai, tidak ada yang peduli. Pada saat itu, suasana hati mereka menganggap bahwa Piala Dunia sudah pasti akan menjadi milik mereka. Tak seorang pun yang ragu bahwa Brasil memang punya peluang untuk itu. 

Pada saat itu, Brasil menurunkan Ronaldinho (pemain terbaik di dunia), Ronaldo (pemain terbaik di era sebelumnya), dan Kaka (pemain yang akan merebut gelar yang sama). Ada juga Adriano, Dida, Cafu, dan Roberto Carlos. Skuad tersebut merupakan timnas Brasil dengan pemain bintang terbanyak sejak edisi 1970. Citra tim Brasil yang berbaris saat lagu kebangsaan dinyanyikan pun menjadi salah satu momen ikonik.

Bagi mereka yang tidak menonton Piala Dunia edisi tersebut, turnamen ini tampak terlihat seperti era keemasan. Namun, bagi mereka yang menontonnya, kenangan itu adalah kekecewaan yang mendalam, bukan hanya karena tim favorit mereka kalah di babak perempat final saat menjamu Prancis era Zinedine Zidan. Namun juga karena karena Brasil bermain tanpa semangat, kreativitas, atau struktur. Suasana pesta skuad yang diperlihatkan oleh ketidakseriusan kamp pelatihan  di Weggis menjadi simbol kemunduran. 

Turnamen itu berakhir dengan Roberto Carlos yang mengalihkan perhatiannya pada kaus kakinya, sementara pemain lawan Thierry Henry mencetak gol yang memastikan tersingkirnya Brasil dari Piala Dunia. Carlos Alberto Parreira yang juga memimpin Timnas Brasil mengakhiri paceklik gelar sebelumnya pada edisi 1994, menjadi pelatih yang akan mengawali masa paceklik gelar Piala Dunia berikutnya.  

Hilangnya canda tawa 

Respons Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) terhadap hasil Piala Dunia 2006 bukanlah dengan introspeksi diri. Memanfaatkan kemarahan publik atas ‘pesta Weggis’, mereka merekrut Dunga untuk menegakkan disiplin dan keseriusan tim. Dunga dikenal sebagai kapten Seleção pada Piala Dunia 1994.

Hasilnya beragam. Skuad Samba tersebut berhasil memenangi gelar juara Copa America dan Piala Konfederasi, tetapi mereka kurang bersemangat. Kebahagiaan menghilang ketika Ronaldo pensiun dari tim dan Ronaldinho serta Adriano dicoret akibat penurunan performa dan perilaku buruk di luar lapangan. Di sinilah Brasil berhenti tersenyum.

Preferensi terhadap kekuatan fisik dengan mengabaikan keindahan pertandingan tampak jelas saat dua bintang muda Santos, Neymar dan Paulo Henrique Ganso, tidak masuk dalam skuad Brasil pada Piala Dunia 2010.

Di luar dugaan, skuad Brasil bertanding dengan spektakuler di babak pertama perempat final melawan Belanda, tetapi datanglah kemunduran bertubi-tubi: kesalahan oleh kiper Julio Cesar, kartu merah Felipe Melo, dan kekalahan pahit 1-2. Mencoret canda tawa demi sikap disiplin pun tidak dapat mengembalikan keajaiban Brasil.

Semua tanggung jawab Neymar 

Coba bayangkan seberapa jauh generasi itu bisa melangkah lebih jauh jika Adriano, Kaka, dan Ronaldinho tetap berada di puncak performanya masing-masing. Adriano dan Kaka sama-sama berusia 28 tahun pada 2010. Sedangkan Ronaldinho berusia 30 tahun, tetapi cedera pinggul yang menimpa Kaka mengakhiri masa cemerlangnya setelah musim 2009. Sementara Adriano serta Ronaldinho meninggalkan masa profesionalisme dengan alasan berbeda, di saat Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sedang berada di atas puncak kejayaan sepak bola mereka.

Cedera pinggul membuat Kaka tampil buruk pada Piala Dunia 2010 dan ia langsung tersingkir dari skuad Brasil. sedangkan Ronaldinho dan Adriano tidak bermain dengan maksimal. Bintang Brasil berikutnya, Neymar, memikul seluruh beban tanpa mentor untuk membimbingnya melalui beratnya tanggung jawab merebut kembali kebanggaan nasional. 

Di tengah pergantian pelatih dan skandal korupsi CBF, Timnas Brasil hanya menurunkan Neymar dan 10 pemain lainnya pada Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022. Brasil masih punya beberapa pemain berbakat, tetapi tidak ada yang bisa mencapai level Neymar. Kini, sebuah negara yang pernah berjaya berkat para bintang sepak bolanya menurunkan tim yang terdiri dari para pemain pendukung, berbakat tetapi kekurangan jiwa kepemimpinan dan identitas.

Momen yang memperparah krisis identitas ini terjadi di kandang mereka sendiri, yaitu kekalahan memalukan 1-7 dari Jerman di babak semifinal Piala Dunia 2014. Inilah kekalahan paling memalukan yang pernah dialami oleh negara para jawara sepak bola . Semua kelemahan Brasil telah terungkap secara brutal akibat absennya Neymar karena cedera.

Absennya Neymar menciptakan mitos, bahwa pria muda tersebut merupakan pemain yang tak pernah tergantikan dan juga tak tersentuh. Seandainya ia bisa mencapai level Messi dan Cristiano Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia dalam jangka waktu yang lama, mitos itu bisa masuk akal. Akan tetapi, karir Neymar mengikuti jalan yang lebih cenderung mirip Ronaldinho, gemilang tetapi tidak konsisten. Bahkan ia sering terhambat oleh cedera yang membuat penampilannya jauh dari performa puncak baik pada Piala Dunia 2018 maupun 2022.

Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, Neymar dijadikan meme global oleh netizen karena aksi diving teatrikalnya, saat Brasil kalah dari Belgia di perempat final. Satu edisi kemudian, Neymar berperan sebagai mentor bagi Vinícius Jr dan Rodrygo dengan mencetak gol indah saat menjamu Kroasia. Namun, beberapa saat kemudian, Brasil mulai kebobolan di menit-menit akhir dan kembali kalah adu penalti di babak perempat final.

Berharap keajaiban

Sejak 1994, tersingkir di perempat final Piala Dunia bukan lagi hal mengejutkan bagi Brasil. Brasil terakhir kali lolos ke babak semifinal pada 2014 silam, dan itu pun berakhir dengan penderitaan.

Perjalanan menuju Piala Dunia 2026 dipenuhi dengan kekacauan, akibat periode sementara di bawah Fernando Diniz yang disusul oleh masa kepemimpinan singkat dan tidak menginspirasi dari Dorival Junior. Kurang lebih setahun sebelum turnamen itu dimulai, Ancelotti hadir sebagai pelatih asing pertama yang memimpin skuad Brasil di Piala Dunia. Kedatangan Ancelotti menjadi kemunduran wibawa pelatih Brasil di tanah air mereka. Ini adalah sebuah tren yang sudah terjadi di tingkat klub di Brasil.

Ancelotti tidak memiliki banyak waktu untuk membentuk keseimbangan. Neymar absen di sebagian besar pertandingan akibat cedera sejak 2023, sehingga kepemimpinan tim beralih ke Vinicius, Raphinha, dan Casemiro. Sebagian besar dari mereka terlalu muda untuk mengenang keberhasilan Brasil pada 2002, sedangkan beberapa pemain lainnya juga belum lahir. Ingatan kolektif mereka tentang ketangguhan tim nasional Brasil nyaris punah.

Karena harapan untuk meraih gelar juara Piala Dunia yang keenam selalu pupus, krisis identitas Brasil semakin mendalam dan banyak pertanyaan menumpuk yang harus diselesaikan, sebagai berikut:

  • Apakah Brasil perlu mengutamakan kebebasan seperti di edisi 2006, atau bersikap disiplin seperti di edisi 2010?
  • Bisakah Brasil juara Piala Dunia tanpa Neymar?
  • Apakah masih ada pemain kelas dunia dari Brasil yang mampu melanjutkan warisan skuad Samba?
  • Apakah perekrutan pelatih asing menjadi satu-satunya cara untuk kembali ke era kejayaan?

Setiap orang memiliki jawaban mereka masing-masing, tetapi kenyataannya adalah rasa putus asa yang semakin meningkat dan kecemasan yang mencerminkan kenyataan hidup masa kini, terbungkus oleh paceklik gelar yang terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah. 

Jika 24 tahun antara gelar ketiga dan keempat ditandai dengan kebanggaan atas apa yang dapat dihasilkan sepak bola Brasil, rentang waktu 24 tahun kali ini mencerminkan kebalikannya. Identitas dibangun seiring waktu, dan puasa gelar saat ini telah mengikis identitas Brasil, sedikit demi sedikit.

Sejak zaman Penta, Brasil sempat dikenal sebagai penakluk yang mempesona. Namun, saat ini tidak ada pemain yang memiliki ciri-ciri tersebut. Lalu apa yang mereka banggakan saat ini? Seleção tetap menjadi tim nasional tersukses sepanjang sejarah Piala Dunia, tetapi nama Brasil semakin jarang muncul di deretan nama favorit juara. Hal itu tidaklah normal.

Penantian gelar juara Piala Dunia yang keenam tidak pernah terasa begitu berat bagi Brasil. Satu-satunya hal yang tersisa hanyalah melihat sejarah yang akan diukir pada Piala Dunia 2026 mendatang.

Mengapa Brasil kehilangan arah? 

Jika pencapaian saat ini bukan yang terendah bagi skuad berjuluk Seleção, tidak ada ungkapan lain yang bisa melukiskannya. Mereka berulang kali tersingkir awal dari turnamen internasional. Salah satu yang masih dibicarakan para fans saat ini adalah penampilan Brasil di turnamen Copa America 2024 lalu. Kekalahan Samba dari Uruguay melalui adu penalti di babak perempat final menjadi kali ketujuh mereka tersingkir dari babak perempat final pada turnamen yang digelar di luar Brasil sejak 2009 silam.

Itu bukan kali pertama Brasil mengalami nasib yang memalukan saat bertanding di turnamen. Namun, kekalahan ini sama suramnya seperti hasil buruk pada 1950 dan kekalahan 1-7 pada babak semifinal Piala Dunia 2014.

Menjelang Copa América 2024, tidak begitu banyak harapan bahwa Brasil akan meraih gelar juara ke-10. Momen ini seharusnya bisa menjadi peluang untuk membangkitkan momentum. Setelah masa sulit yang menimpa mereka dalam beberapa tahun terakhir, ada harapan bahwa penampilan yang moncer dapat memicu perubahan sebelum putaran berikutnya di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 di mana Brasil sempat berada di peringkat keenam klasemen sementara. Posisi ini nyaris membuat mereka terancam gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

Setelah penampilan yang apik saat berhadapan dengan Spanyol dan Inggris pada Maret lalu, pelatih Brasil saat itu, Dorival Júnior, berupaya menstabilkan tim dengan tampil untuk mengakhiri masa sulit. Namun, hasil buruk di Copa América tidak banyak membungkam para pengkritik Dorival. Ia dikritik karena dinilai gagal bertindak dalam pertandingan dan terlambat melakukan pergantian pemain. 

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa otoritasnya atas skuad Seleção menjadi bahan perbincangan dari sejumlah pihak. Saat para pemain berkumpul sebelum adu penalti, Dorival tidak berada di dalam lingkaran. Setelah sempat mengangkat tangannya untuk berbicara, Dorival justru diabaikan.

Sepanjang turnamen, sang pelatih berusaha menekankan dan mengarahkan fokus pada adu penalti. Brasil menghabiskan sesi latihan sebelum pertandingan berlangsung untuk berlatih mengeksekusi tendangan penalti dan mengetahui bahwa peluang adu penalti meningkat karena Copa América langsung menentukan hasil pertandingan melalui adu penalti di babak gugur tanpa perpanjangan waktu. 

Namun, meski gagal dalam mengeksekusi tendangan penalti saat latihan, Éder Militão terpilih sebagai pemain pertama yang mengeksekusi penalti dan ia gagal. Demikian pula dengan Douglas Luiz.

Dihadang oleh para penggemar yang marah di hotel tim, Danilo mengatakan bahwa Brasil adalah tim muda yang menunjukkan bahwa mereka dapat melakukan hal-hal cerdas. Ia hanya berharap bahwa sejumlah orang dapat memiliki sedikit kesabaran. Para penggemar menuntut kepada Dorival dan Danilo untuk segera mundur dari jabatannya akibat hasil-hasil buruk yang diraih oleh tim kesayangan mereka.

Namun, hanya beberapa orang yang setuju dengan pernyataan ini. Kesabaran sudah menipis sebelum turnamen berjalan, dan hasil serta penampilan menunjukkan tim yang kembali kehilangan arah. Brasil baru sekali memenangi satu laga, saat mereka menang 4-1 atas Paraguay di laga kedua babak penyisihan grup. Pada tiga laga berikutnya melawan Kosta Rika, Kolombia, dan Uruguay, mereka hanya bermain imbang di sepanjang pertandingan dan gagal mencetak satupun gol dari laga terbuka.

Brasil identik dengan permainan yang apik dan mengalir secara bebas, tetapi skuad asuhan Dorival tersebut bertanding dengan buruk Kegembiraan seolah-olah telah hilang dan memudar begitu saja. Intensitas pertandingan sangat minim. Para pemain yang diperkirakan dapat memberikan dinamisme seperti Rodrygo, Endrick, Vinícius Júnior; hanya duduk di bangku cadangan atau merasa kecewa. Perhatian sebagian besar dari mereka tertuju pada Vinícius, yang mendapat kritik dari berbagai pihak.

“Vinícius bukanlah pemain yang bisa Anda katakan bahwa jika ia bermain dengan baik, Brasil akan menjadi juara. Jika ia bermain dengan bagus, dia [hanya] membantu Brasil juara Piala Dunia,” kata Romario, sang legenda Brasil, saat itu.

Romario benar. Vinícius kembali gagal tampil meyakinkan di turnamen ahunan besar untuk timnya. Ia juga terkena sanksi skorsing di babak perempat final akibat akumulasi kartu kuning di babak penyisihan grup. Dia mencetak dua gol saat menjamu Paraguay dan berhasil menang di pertandingan itu. Namun, ia justru absen saat Brasil berhadapan dengan Kosta Rika dan Kolombia. Kedua pertandingan tersebut berakhir dengan hasil imbang. 

Untuk klubnya, Vinícius adalah pemain yang sangat cepat. Ia tampil kreatif di menit-menit terakhir. Saat ia sedang dalam performa terbaiknya, tidak ada bek yang bisa menghentikannya. Namun, ketajaman Vinicius menghilang saat terjadi pergantian pelatih di klub. Di bawah asuhan pelatih yang berbeda, ia kesulitan untuk mencari jati dirinya. Haruskah ia menyerang dari lini kiri? Haruskah ia menahan bola di tengah? Haruskah ia mundur lebih dalam? Apakah ia menggabungkan atau memulai pertandingan ini? Dia memiliki periode frustasi yang naik-turun, kehilangan bola, atau melakukan misi satu lawan satu ke koridor tertutup secara sia-sia. Di Copa America yang berdurasi 251 menit, ia memiliki jumlah sentuhan yang tidak berhasil dua kali lipat dari jumlah umpan yang berakhir dengan tembakan.

Namun, meski Vinícius harus memikul beban kreativitas yang besar, kegagalan pesepakbola 25 tahun tersebut juga akibat kegagalan para pemain lain yang berada di sekitarnya. Sorang penyerang hanya dapat berkembang dalam tim yang terstruktur dengan dasar yang stabil. Dan seiring Vinícius berkembang menjadi pemain yang paling bersinar di negara ini, para pemain di sekelilingnya justru merosot ke tingkat medioker.

Sebelum pertandingan melawan Uruguay, gelandang Andreas Pereira mengatakan bahwa skuad Brasil adalah skuad yang hanya bisa menjadi impian bagi Uruguay. Itu merupakan pernyataan yang aneh. Lini tengah Brasil, yang didominasi oleh para pemain Liga Inggris, baru saja diruntuhkan oleh lini tengah Kolombia yang didominasi oleh para pemain Liga Brasil yang sering dicemooh oleh suporternya. Namun, pernyataan ini juga menjadi motivasi bagi para pemain La Celeste.

“Jika ingin berbicara tentang Uruguay, Anda perlu memiliki sedikit rasa hormat,” kata Luis Suárez, setelah kemenangan Uruguay. “Ketahuilah sejarah Uruguay sebelum mengatakan bahwa ada pemain yang ingin berada di timnas Brasil. Siapa pun yang membuat komentar itu adalah pemain cadangan bagi [Giorgian] De Arrascaeta di sepak bola Brasil [di Flamengo], bayangkan rasanya bagi kami mendengar komentar semacam itu.”

Perkataan Pereira memang terdengar seperti ejekan sebelum kick-off, yang kemudian justru menjadi bahan tertawaan setelah laga berakhir. Lucas Paquetá, João Gomes, Bruno Guimarães, dan Pereira tidak mampu menghalau tekanan dari Uruguay, seperti halnya saat melawan Kolombia. Setelah tidak bisa bertanding melalui lini tengah di kedua pertandingan, mereka harus mengandalkan Alisson untuk melancarkan umpan panjang dari belakang yang mengubur setiap upaya untuk membangun serangan.

Berdiri di pinggir lapangan, Dorival tidak dapat menemukan solusi. Saat Brasil masih dapat mengandalkan Casemiro atau Fernandinho untuk memberikan kekuatan dan ketangguhan di lini tengah, mereka bergantung pada tiga pemain yang berdiri di lini tengah, yakni Gomes, Guimarães, dan Paquetá. Mereka hanya menjadi penonton usai diganti oleh para pemain cadangannya masing-masing.

Hanya Endrick yang memberi harapan nyata. Pesepakbola 17 tahun itu mendapatkan peluang untuk menjalani laga debutnya sebagai starter oleh Dorival di babak perempat final menggantikan Vinícius. Namun, pemberian harapan untuk memikul beban tim pada usia muda di saat yang sulit adalah permintaan yang dianggap terlalu berlebihan. Saat bertanding melawan Uruguay, ia hanya melancarkan dua kali umpan (satu dari tendangan awal) dan kesulitan untuk menghadapi kekuatan fisik dari pemain yang bertahan lini belakang La Celeste.

Endrick bisa saja dipandang oleh banyak pihak sebagai penyelamat, tetapi ia tidak akan menangani masalah struktural yang terjadi di lini tengah atau kurangnya kekompakan tim di berbagai lini. Namun, kenyataannya adalah bahwa Brasil saat ini hanya menjadi tim terbaik keempat zona Amerika Latin di belakang Argentina, Uruguay, dan Kolombia. Kolombia saat ini menjalani catatan luar biasa, yakni 27 laga tanpa kekalahan. Mereka belum tentu memiliki lebih banyak bakat dari Seleção, tetapi mereka memiliki gaya bertanding yang jelas dan pelatih yang kuat dan dogmatis.

Jika keadaan masih belum berubah, Brasil terancam gagal menang di Piala Dunia 2026. Dorival memang akhirnya dipecat oleh Seleção, yang selanjutnya merekrut Ancelotti sebagai pelatih kelima sejak 2022 silam. 

Brasil bisa juara Piala Dunia 2026, asal … 

Kurang dari enam bulan sebelum Piala Dunia 2026, Brasil harus tancap gas bila ingin mengakhiri puasa gelar mereka. Menurut para pengamat, inilah beberapa hal yang perlu dipunyai Brasil: 

1. Konsistensi pelatih 

Saat ini, Carlo Ancelotti dipercaya menjadi pelatih Brasil menjelang Piala Dunia 2026. Ancelotti adalah salah satu pelatih terbaik di dunia dengan pengalaman di klub-klub elite Eropa. Gaya permainannya lebih mengedepankan keseimbangan antara serangan dan pertahanan, kegigihan dalam kontrol bola, dan efisiensi di setiap lini. Ini adalah perubahan penting bagi Brasil, yang dalam beberapa musim terakhir terkadang tampil tanpa struktur taktis yang kokoh. 

Agar menang, Brasil harus:

  • Menerapkan filosofi taktis yang jelas sejak fase grup hingga fase gugur.
  • Menerapkan rotasi pemain yang efisien sehingga kondisi fisik optimal sepanjang turnamen.
  • Menghinderi perubahan strategi secara drastis di tengah kompetisi. 

2. Mental juara dan kepemimpinan di lapangan

Brasil memiliki pemain kelas dunia di tiap generasinya, tapi pada pertandingan hidup mati mental juara harus lebih kuat. Mentalitas tidak cukup hanya berbicara soal bakat teknis. Mentalitas yang baik mampu bermain tenang di bawah tekanan, tetap fokus ketika tertinggal, dan mengambil keputusan tepat di momen krusial.

Hal ini terutama penting bagi Brasil mengingat kekalahan telak 1–4 dari Argentina di kualifikasi beberapa waktu lalu yang memicu kritik tajam terhadap mental tim. 

3. Pemain bintang yang fit dan terbaik

Brazil selalu terkenal memiliki talenta hebat. Untuk Piala Dunia 2026, sejumlah pemain bintang yang akan menentukan nasib Brasil di turnamen ini:

  • Vinícius Junior. Saat ini ia masih merupakan salah satu pemain penting bagi Brasil. Ia punya kecepatan, teknik, dan insting mencetak gol yang mematikan. Gol-gol pentingnya membantu Brasil lolos ke Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa dia adalah bagian integral dari rencana Brasil.
  • Neymar. Ia tetap jadi andalan. Meskipun baru pulih dari cedera serius dan belum pasti tampil di Piala Dunia, banyak analis mengatakan bahwa kehadirannya akan menjadi dorongan besar bagi tim, terutama dari segi kreativitas dan pengalaman. Pelatih Ancelotti pun berharap Neymar bisa mencapai kondisi fisik 100 persen sebelum turnamen.

Brasil perlu kombinasi antara pemain muda berbakat dengan veteran berpengalaman. Lini tengah yang kuat dan pertahanan yang solid adalah kunci agar mereka tidak mudah kebobolan dari serangan cepat lawan – sebuah kelemahan yang sempat terlihat di fase kualifikasi beberapa waktu lalu.

4. Taktik yang tepat untuk format 48 tim

Format baru Piala Dunia 2026 menjadi momen bersejarah karena akan menjadi pertama kalinya turnamen ini melibatkan 48 tim, dibagi menjadi 12 grup. Ini berarti pertandingan yang harus dimenangkan untuk mencapai final bisa lebih banyak dan ada dinamika baru untuk dipahami setiap tim. Brasil harus cepat beradaptasi dengan:

  • Strategi mengamankan poin penuh di fase grup agar tidak tergantung pada hasil tim lain.
  • Manajemen tenaga pemain karena jadwal pertandingan bisa lebih padat dibanding format 32 tim sebelumnya.

Adaptasi taktik seperti pressing yang tepat, rotasi pemain yang efisien, dan pendekatan permainan yang fleksibel terhadap lawan yang berbeda akan membuat Brasil punya peluang tinggi untuk lolos jauh. Stadion-stadion di Amerika Utara akan memberikan banyak tantangan, termasuk cuaca dan jarak perjalanan antar kota.

5. Persiapan pra-turnamen yang matang

Bagian penting dari sukses di turnamen besar adalah pemanasan melalui persahabatan dan tur pemusatan latihan yang matang. Brasil perlu:

  • Jadwal uji coba berkualitas lawan tim kuat dari Eropa, Afrika, dan Asia untuk menguji taktik mereka.
  • Program fisik dan medis yang kuat agar tidak ada pemain kunci yang cedera menjelang turnamen.
  • Program analisis video yang mendalam terhadap kandidat lawan di fase grup maupun knockout.

Persiapan bukan hanya fisik dan taktis; itu juga mencakup pemetaan lawan agar Brasil bisa memanfaatkan kelemahan lawan dan menampilkan permainan terbaiknya di setiap laga. Kekalahan dalam laga persahabatan kontra Jepang pertengahan 2025 lalu sudah cukup sebagai lampu merah tentang kondisi skuad Brasil saat ini. 

6. Dukungan publik  

Sampai dengan detik ini para suporter Brasil di dalam negeri masih menganggap sepak bola Brasil adalah kebanggaan nasional, karena belum ada negara lain yang menyamai prestasi mereka sebagai lima kali juara dunia. Maka wajar bila cacian sangat deras ditujukan kepada para pemain dan tim pelatih, karena para suporter pun merasa kebanggaan mereka telah hilang. 

Walaupun demikian, para fans perlu menyadari bahwa skuad membutuhkan dukungan di saat suka dan duka, bukan hanya pujian saat mereka menang. 

7. Low profile 

Sederet nama pemain Brasil menjadi cercaan di Eropa setelah satu musim sebelumnya mereka dipuja-puji bak pahlawan, akibat lupa daratan. Mirisnya, dua pemain Brasil terbaik saat ini menjadi ‘korban permainan’ liga Eropa berikut para fansnya. Neymar mengalami penurunan performa akibat salah pergaulan, sementara Vinicius menjadi korban rasisme. Keduanya pernah menjadi pemain asing dengan bayaran termahal yang sudah pasti mengundang iri hati dari para pemain lain. 

Walaupun tidak ada kaitannya dengan teknis sepak bola, tetapi iri dan dengki merupakan salah satu faktor pendorong mengapa pemain tim lawan berniat mencederai seorang pemain bintang. Faktor yang sama juga dapat menjadi pendorong mengapa rekan-rekan satu tim ogah memberikan umpan bola kepada sang pemain bintang. Tanpa kerja sama tim yang baik, sulit membayangkan trofi Piala Dunia akan kembali ke pangkuan Brasil di Piala Dunia 2026. 

Bagaimana menurut Anda? Simak jadwal Piala Dunia 2026 untuk menganalisa peluang menang skuad Brasil dari lawan-lawan mereka di fase grup. 

Mainkan Taruhan Laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Sekarang!

Berita Terbaru