
Bagi para penggemar bola, performa sebuah tim di masa kualifikasi menjadi gambaran performa tim tersebut di sepanjang Piala Dunia. Tak terkecuali Piala Dunia 2026. Menurut para fans, Italia yang terseok-seok lolos kualifikasi menjadi cerminan penampilan mereka tahun depan.
Di luar Kualifikasi Piala Dunia 2026, Brasil baru saja kalah secara memalukan dari Jepang di laga persahabatan dalam rangka uji coba lapangan Piala Dunia 2026.
Sebuah tim kurang terkenal baru saja mencetak sejarah dengan kemenangan fantastis mereka di laga kualifikasi, ketika sebagian besar fans sepak bola sibuk menganalisa performa tim-tim besar.
Austria 10-0 San Marino
Timnas Austria berada dalam performa apiknya usai menang telak 10-0 atas San Marino di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa awal Oktober lalu. Kemenangan ini merupakan hasil kerja keras tim, nyaris seluruh pemain skuad The Boys (Burschen) mencetak gol atau melakukan assist. Sebuah pencapaian luar biasa berkat persatuan dan keseimbangan di dalam skuad asuhan Ralf Rangnick tersebut.
Banyak gol yang tercipta di pertandingan ini. Romano Schmid menjadi pemain pertama yang mencetak gol, diikuti oleh Marko Arnautovic. Tiga gol berikutnya dicetak oleh Michael Gregoritsch, Stefan Posch, dan Konrad Laimer. Bahkan, salah satu bek, Kevin Danso berhasil melakukan beberapa kali assist yang berujung salah satu gol yang dicetak oleh Posch.
Austria telah mengambil alih kendali pertandingan, mendominasi penguasaan bola, dan menciptakan berbagai peluang. Keunggulan tersebut membuat skuad Burschen jauh memimpin dengan skor 5-0 hingga akhir babak pertama.
Selepas dimulainya babak kedua, skuad Burschen mempertahankan dominasi mereka di pertandingan ini. Arnautovic memimpin lini serang pasukan. Ia mencetak hattrick dan skor berubah menjadi 8-0.
Hasil tersebut membuatnya menjadi top skor terbaik timnas Austria dengan raihan 45 gol, melampaui rekor Toni Polster dengan 44 gol yang dicapai pada 1996 silam.
Secara statistik, Austria berada di atas angin sepanjang pertandingan ini. Mereka meraih penguasaan bola sebesar 71%, dengan 25 tembakan dan menjaga batasan San Marino dari wilayahnya sendiri. Kemenangan ini mengukuhkan posisi Austria di puncak klasemen Grup H dengan lima kemenangan setelah lima laga berjalan, setidaknya sampai laga kualifikasi berikutnya pertengahan November 2025.
Walaupun San Marino menunjukkan resiliensi mereka dengan terus bermain sampai akhir, pertandingan mereka melawan tim-tim papan atas Eropa sering berfokus pada pembatasan gol, bukan bersaing untuk mengendalikan bola.
Performa Austria benar-benar berada di luar ekspektasi. Skuad Burschen merespon dengan finishing yang bersih, umpan ritme, dan kepercayaan diri seiring berlanjutnya perjuangan mereka menghadapi format baru Kualifikasi Piala Dunia 2026.
‘Berkerja sama’ dengan rival
Timnas Austria mewakili Austria di turnamen internasional sepak bola putra. Mereka berada dalam pengawasan Asosiasi Sepak Bola Austria.
Asosiasi Sepak Bola Austria (OFB) didirikan pada 18 Maret 1904 di era Kerajaan Austro-Hongaria. Pada 1930-an, Austria di bawah asuhan Hugo Meisi dan dikenal sebagai “Wunderteam” (Tim Ajaib). Mereka juga pernah merajai arena sepak bola Eropa di era sebelum Perang Dunia II.
Pencapaian terbaik mereka adalah finis keempat di Piala Dunia 1934 dan runner-up di Olimpiade 1936. Peristiwa Anschluss 1938 yang secara paksa menyatukan wilayah Austria dengan Nazi Jerman memicu pembubaran OFB.
Para pemain Austria wajib bergabung dengan timnas Jerman untuk tampil di Piala Dunia 1938. Salah satu bek Austria, Max Scheuer yang berdarah Yahudi, terbunuh di kamp konsentrasi Auschwitz, Polandia, selama tragedi Holocaust di era tersebut. .
Setelah Perang Dunia II berakhir, Austria mendirikan kembali tim nasionalnya dan meraih kesuksesan dengan finis ketiga di Piala Dunia 1954. Skuad yang juga dijuluki Unsere Burschen (Our Boys) itu terus berada dalam catatan terbaiknya pada 1950 hingga 1960-an, dengan salah satunya adalah kemenangan atas Inggris pada 1965 di Stadion Wembley.
Namun, pada beberapa dekade berikutnya, keberuntungan Austria semakin fluktuatif. Mereka gagal lolos ke Piala Dunia pada tahun 1962 dan 1966. Namun, mereka berhasil lolos ke Piala Dunia 1974 usai meraih kemenangan tipis atas Swedia di babak playoff.
Austria pun bangkit pada Piala Dunia 1978 dan 1982 dengan lolos ke putaran kedua. Salah satu dari keberhasilan mereka, adalah kemenangan atas Jerman Barat pada 1978.
Pada Piala Dunia 1982, Austria terlibat sebuah peristiwa kurang mengenakkan yang disebut Skandal Gijon (Schande von Gijon) bersama Jerman Barat.
Di masa itu, seluruh pertandingan penyisihan grup tidak dilakukan di hari dan jam yang sama, sehingga membuka peluang bagi tim-tim dalam satu grup untuk “main mata” selama pertandingan berlangsung. Ini adalah istilah yang diberikan para pengamat sepak bola di Indonesia untuk menyebut “kesepakatan” antara dua tim yang saling bermusuhan di lapangan untuk mencetak gol dan mengatur pertandingan, agar hasilnya cukup untuk menyingkirkan tim lain dalam grup mereka berdasarkan perolehan poin dan selisih gol.
Saat itu, Piala Dunia berlangsung di Spanyol dan Jerman masih bernama Jerman Barat. Austria kembali bertemu dengan Jerman Barat, bersama Aljazair dan Chile. Aljazair berhasil mengalahkan Jerman Barat di laga pembuka penyisihan grup, tetapi gagal menang di pertandingan mereka di hari sebelumnya.
Jerman Barat dan Austria sama-sama paham bahwa mereka hanya butuh satu gol dari Jerman Barat agar sama-sama lolos ke babak selanjutnya, serta mengeliminasi Aljazair yang dianggap ‘berbahaya”. Kedua tim kemudian bermain drama; Austria membiarkan Jerman Barat mencetak satu gol. Lalu mereka terus bermain selama 80 menit tanpa berusaha mencetak gol sama sekali.
Laga yang berlangsung di Stadion El Molinon, Gijon, Spanyol, 25 Juni 1982 menjadi sorotan publik. Terutama dari para fans Aljazair yang kesal karena timnas mereka gagal maju ke babak selanjutnya gara-gara ‘kerja sama’ antara timnas Jerman Barat dan Austria.
Walaupun memiliki momen gelap bersama Jerman dalam sejarahnya, Austria tetap menggunakan Bahasa Jerman sebagai bahasa nasional. Mayoritas pemain timnas Austria merumput di Bundesliga Jerman, dan mereka menganggap Jerman sebagai rival utama mereka di dunia sepak bola. Meskipun latar belakang sejarah membuat laga melawan Hungaria ibarat laga El Clasico bagi Austria.
Kebangkitan setelah COVID
Namun, tudingan tersebut rupanya memengaruhi suasana psikologis komunitas sepak bola Jerman. Skuad Unsere Burschen mengalami kemunduran. Mereka bahkan tersingkir dari babak penyisihan grup di Piala Dunia 1998. Setelah itu, Austria belum pernah sekalipun lolos ke Piala Dunia.
Setelah pandemi COVID-19 pada 2020, Austria mulai menunjukkan performa terbaiknya. Pada Piala Eropa 2020, Austria lolos ke babak 16 besar usai mengalahkan Makedonia Utara dan Ukraina, yang mengantarkan mereka finis kedua di klasemen Grup C.
Ini merupakan kali pertama dalam sejarah skuad Unsere Burschen yang berhasil lolos dari fase gugur. Namun, perjalanan epik mereka harus berakhir usai dikalahkan Italia 1-2 pada babak perpanjangan waktu 16 besar.
Di edisi berikutnya pada 2024 lalu, Austria juara grup D setelah mengalahkan Perancis dan Belanda di babak penyisihan grup. Itu merupakan pencapaian terbaik mereka sepanjang masa. Sayangnya, Austria harus terhenti lagi di babak 16 besar usai kalah 1-2 dari Turki.
Namun, setidaknya kemenangan 2-0 melawan sang rival Jerman di laga persahabatan akhir November 2021 bisa menjadi pelipur lara.
Ralf Rangnick masih dipercaya sebagai pelatih utama timnas Austria sejak April 2022. Hingga saat ini, Austria berada di peringkat FIFA ke-24 dengan 1.586 poin.
Selain para pemain produk Bundesliga, skuad Burschen juga diperkuat sejumlah pemain yang merumput di liga top Eropa lainnya. Misalnya, Kevin Danso (bek,Tottenham Hotspurs), David Alaba (bek, Real Madrid), Gernot Trauner (bek, Feyenoord), dll. Sementara top skorer Austria, Marko Arnautovic, bermain untuk Red Star Belgrade di Superliga Serbia.
Di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Austria berada di Grup H bersama Bosnia dan Herzegovina di peringkat dua, disusul Rumania, Siprus, dan San Marino. Bosnia merupakan pesaing ketat Austria dengan raihan 13 poin.
Akankah skuad Burschen berhasil melompat lebih tinggi di Kualifikasi Piala Dunia 2026? Pantau jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa dan saksikan perjuangan mereka menembus final.