
Sepak bola diwarnai kisah para pemain dengan tabiat mereka yang beraneka ragam. Mereka yang tengah berada di puncak karir terkadang lupa bahwa dirinya bisa sukses secara individu berkat para pemain lainnya dalam tim, baik level klub maupun timnas.
Coba bayangkan seandainya rekan-rekan satu tim seorang pemain menolak bermain bersamanya. Pemain tersebut akan dicoret dari tim dan kehilangan kesempatan untuk tampil di turnamen emas seperti Piala Dunia 2026.
Bermasalah di klub dan timnas
Alejandro Garnacho telah mendapat peringatan keras dari rekannya sesama pemain Argentina, Oscar Ruggeri, akibat sikap pongah dan percekcokan dengan pelatih mantan klubnya, Manchester United.
Piala Dunia 2026 sudah semakin dekat, Garnacho harus melakukan sesuatu agar dapat dipanggil kembali ke skuad Tango guna mempertahankan gelar juara dunia Argentina. Sejak ia digadang-gadang sebagai salah satu bintang cemerlang Manchester United, karir Garnacho justru terhambat.
Akibat terlibat ketegangan dan hubungan yang retak di Old Trafford dalam beberapa bulan terakhir, kepindahan striker 21 tahun itu ke Chelsea seharusnya dapat memberikan semangat baru dalam penampilannya di Stamford Bridge, stadion kandang Chelsea. Namun, hal itu belum terjadi.
Kedatangan Garnacho di ibu kota Inggris belum menunjukkan dampak positif bagi klub barunya. Dan ia belum menjadi mesin gol sebagaimana yang diharapkan oleh para penggemar Chelsea. Sejak dikontrak Agustus lalu, striker Argentina tersebut telah menghabiskan 331 menit dalam tujuh laga terakhir. Ia mencetak gol perdananya bagi Chelsea sebelum kekalahan mengejutkan dari Sunderland.
Masalah kepribadian pemain berkewarganegaraan Spanyol dan Argentina itu muncul sejak ia berada di Manchester, di saat kepopulerannya dibayangi masalah kedisiplinan dan sikap yang kurang terpuji di mata rekan-rekannya.
Menurut tabloid Inggris The Sun, sejumlah pemain senior MU, yaitu Bruno Fernandes, Casemiro, dan Harry Maguire menegurnya beberapa kali akibat sikapnya yang terlalu egois dan tidak bersemangat untuk bekerja sama dalam tim. Garnacho dikenal kerap melampiaskan emosinya melalui postingan di media sosial.
Semua berawal dari perselisihannya dengan pelatih MU Ruben Amorim. Insiden yang terjadi selama perjalanan ke Plzen membuat pelatih berkewarganegaraan Portugal itu memandang sikap Garnacho dapat membawa suasana yang kurang baik di antara pemain lainnya, khususnya saat jeda pertandingan di ruang ganti.
Januari lalu, Amorim memutuskan untuk mencoret Garnacho dari latihan tim inti, di mana ia harus menjalani latihan bersama Marcus Rashford, Anthony, dan sejumlah pemain lain yang tidak cocok dengan selera Amorim. Lalu, Chelsea melirik Garnacho dan ia dijual senilai 40 juta euro (Rp 769 M).
Bos Argentina, Lionel Scaloni tidak memanggil Garnacho sejak November 2024. Padahal, ia adalah orang pertama yang memberikan Garnacho kesempatan untuk berlaga bersama timnas Argentina. Ruggeri, pemain legenda Argentina di Piala Dunia 1986, juga menegaskan bahwa bakat saja tidak cukup untuk menyelamatkan karir Garnacho.
“Ia tidak lebih baik dari siapapun. Jika Anda seorang pemain bola, nikmatilah kepopuleran, asalkan Anda tidak terlalu bangga terhadap diri sendiri. Semua itu tidak ada gunanya bila pemain tidak dapat mengendalikan diri,” tutur Ruggeri pada jurnalis sepak bola.
“Harus ada yang bisa menyadarkan ia agar tidak terlalu tinggi hati. Saat ini ia tidak dipanggil tim nasional gara-gara sikapnya. Mungkin kalau Garnacho sudah bisa mengubah sikap, ia akan dipanggil. Ia sebenarnya pemain yang luar biasa, sehingga pasti akan dipanggil (masuk timnas) ,” kata Ruggeri.
Garnacho juga dicaci media karena sikapnya sebelum resmi bermain untuk Chelsea. Ia tidak bisa masuk daftar pemain melawan Fulham karena terlambat mendaftar. Ia diarahkan oleh tim pelatih menonton pertandingan di tribun VIP Stamford Bridge sebagai bentuk dukungan kepada rekan-rekan klub barunya.
Namun, kamera televisi merekam gerak-gerik Garnacho yang bermain ponsel pada beberapa menit setelah pertandingan dimulai. Jamie Carragher tak bisa menahan amarahnya melihat tayangan tersebut, karena sikap Garancho dinilai tidak pantas bagi seorang pemain yang baru bergabung.
“Tahukah Anda apa yang paling tidak saya suka?” cecar mantan pemain Liverpool itu pada media sepak bola. “Dia datang untuk menonton pertandingan [melawan Fulham], padahal saat itu banyak penonton di sekitarnya dan semua melihatnya sibuk dengan ponselnya Ini kesalahan besar, karena ia duduk sambil bermain ponsel selama pertandingan Chelsea.”
Mantan pelatih Chelsea, Roberto di Matteo, juga menyarankan bahwa Garancho harus banyak belajar dan bersikap dewasa dengan cepat untuk mewujudkan potensinya.
“Sebenarnya ia punya banyak potensi. Jika ia bisa berkembang dan menjadi pemain sehebat apa yang ia bayangkan tentang dirinya sendiri, dan itulah harapan kami, saya kira sikapnya itu sesuai,” kata Di Matteo yang berusaha membela Garnacho.
“Kita sebaiknya ingat bahwa ia masih berusia 21 tahun, sehingga ia masih perlu belajar dan tumbuh dewasa sebagai seorang pemain sepak bola. Kita semua pernah muda dan pernah melakukan kesalahan, oleh karena itu kita belajar dari kesalahan itu.
Chelsea merupakan klub dengan hirarki yang baik dan mereka dapat membantunya untuk berkembang. Menurut saya, sikapnya tidak akan mendatangkan musibah bagi Chelsea. Klub ini merupakan tim yang baik, dan suasananya juga baik. Pelatih mereka bisa membangun ikatan yang baik dengan seluruh pemain.”
Tidak ada yang meragukan kualitas Garnacho dalam hal memainkan bola. Namun, kisah karir pria muda ini bisa menjadi contoh tentang peluang yang terbuang sia-sia akibat perilaku diri sendiri.
Ada beberapa pemain muda yang tampil cemerlang hanya untuk mengalami kegagalan, lantaran terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri dan tak mampu bekerja sama dengan tim. Striker Chelsea tersebut harus memastikan bahwa dirinya tidak akan termasuk dalam jajaran pemain semacam itu di sepanjang karirnya.
Penggemar berat Cristiano Ronaldo
Alejandro Garnacho Ferreyra (lahir 1 Juli 2004) adalah pesepak bola profesional yang bertanding sebagai bek sayap di Liga Primer Inggris bersama Chelsea sejak Agustus 2025.
Pada Oktober 2020, Garnacho bergabung dengan Manchester United. Ia berhasil memenangi Piala FA tingkat muda dan meraih penghargaan Pemain Muda Terbaik Jimmy Murphy pada Mei 2022.
Pada tahun itu, ia juga menjalani debutnya pada usia 17 tahun. Sejak saat itu, performanya semakin garang dan dipuji sebagai pemain muda berbakat baru Liga Inggris setelah berhasil menjadi juara Piala EFL 2023. Bahkan ia juga berhasil menyambang gelar juara Piala FA 2024 usai mencetak gol di babak final, sebelum bergabung dengan Chelsea pada tahun 2025.
Garnacho mengawali karir sepak bolanya di tim junior Altetico Madrid, karena ia lahir di Spanyol. Ia sempat bergabung membela timnas U-18 Spanyol pada 2021. Tahun berikutnya ia bergabung dengan timnas Argentina U-20 pada musim 2022, karena ia memiliki kewarganegaraan Argentina yang diturunkan dari ibunya.
Satu tahun kemudian, ia naik ke tingkat senior dan berhasil membantu skuad Tango menyabet gelar juara Copa America 2024.
Garnacho pindah dari Atletico Madrid ke Akademi MU pada 2020, saat usianya masih 16 tahun. Biaya transfer yang harus dibayar MU saat itu adalah sekitar 400 ribu euro.
Menurut para pengamat sepak bola, kelebihan Garnacho terletak pada kecepatan dan kemampuannya menggiring bola. Ia pernah tampil memukau dan mengundang decak kagum para fans Setan Merah berkat gol tunggalnya dalam pertandingan Piala FA junior kontra Everton.
Kelebihan striker ini juga terletak pada kemampuannya menciptakan peluang gol di kotak penalti. Garnacho dikenal sangat mengagumi Cristiano Ronaldo, dan menirukan selebrasi Ronaldo saat ia berhasil mencetak golnya sendiri.
Dengan bertambahnya jumlah tim peserta di bawah format baru Piala Dunia 2026, skuad La Albiceleste dipastikan membutuhkan pemain-pemain muda berbakat seperti Garnacho yang lebih prima secara fisik di bawah cuaca panas.
Bagaimanapun juga, seperti komentar di Matteo, jalan masih panjang bagi Garnacho. Walaupun ia dianggap belum siap bergabung dengan tim senior skuad Piala Dunia 2026 karena sikap songongnya, dipastikan dirinyalah yang akan menggantikan para pemain di skuad inti Argentina saat ini suatu hari nanti.
Mana tim yang akan tampil sebagai penantang Argentina dalam mempertahankan gelar juaranya? Cek dan pantau jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa agar tak ketinggalan keseruannya.