
Sempat dianggap songong oleh media Swiss
Para penggemar Liga Inggris di Indonesia biasanya memfavoritkan klub besar seperti Liverpool, Arsenal, atau Manchester City. Sunderland tidak masuk dalam daftar mereka, karena posisinya yang nyaris tidak pernah keluar dari papen bawah Liga Inggris di tahun-tahun sebelumnya.
Namun, musim ini para petaruh bola perlu meninjau kembali preferensi mereka. Sunderland membuat para fans sepak bola Inggris ternganga setelah sukses menduduki peringkat empat klasemen sementara dengan raihan 18 poin.
Pesepakbola asal Swiss, Granit Xhaka dianggap sosok penting di balik kesuksesan Sunderland musim ini, ketika klub ini sebelumnya lebih sering berkutat dengan ancaman degradasi atau tidak degradasi dari musim ke musim.
Ini merupakan comeback yang luar biasa bagi pesepakbola 34 tahun tersebut ke rimba sepak bola Inggris. Ia sukses membantu pasukan Kucing Hitam, julukan Sunderland, keluar dari zona bawah dengan tujuh poin menjelang jeda musim dingin.
Asal tahu saja, awalnya banyak orang meragukan keputusan pelatih Sunderland, Regis Le Bris, mendatangkan Xhaka ke Sunderland dari Bayer Leverkusen. Selain itu, komentar media dalam negeri terhadap dirinya juga tidak selalu positif dan penuh pujian.
Contohnya saja laga tandang penentu melawan Swedia 10 Oktober lalu.
Awalnya, para petaruh yakin Swedia akan unggul karena diperkuat Viktor Gyokeres (Arsenal) dan Alexander Isak (Liverpool). Sementara tak banyak yang diketahui tentang siapa pemain andalan Swiss.
Xhaka mencetak gol pembuka berkat umpan Johan Mazambi dari kotak penalti. Kerja sama tim yang baik telah menghasilkan tiga poin berkat gol di babak injury time, mengantarkan Swiss juara Grup B dan berhak lolos ke Piala Dunia 2026.
Lalu bagaimana tanggapan media Swiss tentang pencapaian ini?
Bluewin, media Swiss memberikan nilai 5 dari 6 bintang untuk gelandang Sunderland tersebut.
“Xhaka tidak perlu terlalu memamerkan bakatnya, karena ia memang lebih sering menguasai bola. Namun, taktik (Murat) Yakin (pelatih timnas Swiss) berhasil mengendalikan permainan. Terkadang, Xhaka terlalu percaya diri sehingga kadang-kadang tendangannya tidak akurat,” tulis media Swiss, Bluewin.
“Namun, sebagai kapten tim ia sukses mengonversi tendangan penalti menjadi gol. Dengan tembakan dari lini tengah, Xhaka mengingatkan semua orang mengapa ia layak menjadi kapten tim.”
Sementara media Swiss lainnya, Le Matin, ‘hanya’ memberikan nilai 8 dari 10 bintang untuk pesepakbola berdarah Albania itu, nilai tertinggi yang diberikan media itu untuk skuad Swiss.
“Sang kapten (Xhaka) melakukan penalti pertamanya yang berbuah gol. Akurasi, ritme, dan ketenangannya benar-benar luar biasa dalam kompetisi tingkat tinggi,” kata Le Matin.
Sementara itu, para fans Sunderland yang masih tak percaya dengan prestasi memukau klub mereka musim ini memuji Xhaka sebagai versi muda Kevin de Bruyne (gelandang Manchester City). Ini karena Xhaka tampil masih sebaik dulu saat masih memperkuat Bayer Leverkussen.
Tampaknya ia ingin memperbaiki kesalahan yang dilakukannya saat bermain untuk Arsenal di Liga Inggris, saat hubungannya dengan para fans The Gunners tidak terlalu baik..
Le Bris akan senang melihat Xhaka kembali ke performa terbaiknya selama jeda musim. Ia harus mempertahankan konsistensinya saat Liga Inggris kembali bergulir.
Tak ada yang menyangka Xhaka berhasil menggantikan Jobe Bellingham (mantan gelandang Sunderland) di Stadion Light (stadion homebase Sunderland) dengan lebih baik. Bellingham sendiri hengkang ke Borussia Dortmund karena memilih uang.
Dengan absennya Habib Diarra akibat cedera, Xhaka berhasil mengamankan tempatnya di timnas Swiss. Bahkan Xhaka tercatat sebagai pemain yang menciptakan umpan terbanyak, sehingga ia juga layak didapuk sebagai kapten timnas.
Temperamen membayangi karir
Xhaka bergabung dengan Arsenal sejak 2016. Pada laga pertamanya di Liga Inggris, Arsenal kalah 3-4 dari Liverpool dan ia mendapatkan kartu kuning pertamanya. Ia mencetak gol perdananya melalui tendangan jarak jauh dalam pertandingan melawan Hull City yang berujung kemenangan 4-1.
Xhaka mendapatkan kartu merah pertamanya saat melawan Swansea City. Tiga bulan berikutnya, ia kembali diusir oleh wasit untuk kedua kalinya. Mirisnya, kedua pertandingan tersebut dimenangi oleh Arsenal. Pada Mei 2017, ia mematahkan rekor kemenangan Manchester United dengan skor 2-0.
Xhaka juga pernah mengikuti Piala FA dan bertanding di babak final melawan Chelsea dengan kemenangan 2-1. Ia dinobatkan sebagai kapten oleh pelatih Arsenal saat itu, Unai Emery, pada 2019. Namun, di tahun itulah Xhaka dianggap mulai menunjukkan perilaku tidak simpatik.
Publik sepak bola Inggris yang dikenal paling militan di seluruh dunia akan memuji seorang pemain bila ia tampil baik, dan akan mencacinya bila ia tampil sebaliknya. Apalagi mengingat posisi Xhaka sebagai pemain asing yang menyandang ban kapten tim.
Saat bertanding melawan Crystal Palace pada 27 Oktober 2019, Xhaka dikritik karena sikapnya pada para fans, saat ia akan diistirahatkan di menit ke-61. Insiden tersebut bermula saat para penggemar Arsenal memberikan applaus dan bertepuk tangan saat namanya disebut sebagai pemain yang akan diganti.
Saat berjalan keluar lapangan, mendadak ada suara-suara yang mencemooh dirinya dari tribun penonton. Xhaka merasa tersinggung, ia merespon dengan memaki para penggemar. Ia juga melepas jerseynya sebelum berjalan ke terowongan, yang disebut para fans militan Arsenal sebagai gestur pelecehan terhadap klub.
Usai pertandingan, perilaku Xhaka pun menjadi sorotan dan pelatih Unai Emery menyebut Xhaka telah melakukan kesalahan. Emery menyarankan dirinya untuk menyampaikan permintaan maaf secara resmi pada para fans The Gunners.
Tiga hari berikutnya, Arsenal mengumumkan bahwa Xhaka akan menjalani konseling. Di bulan berikutnya, posisi Xhaka diturunkan dari status kapten Arsenal dan digantikan oleh Pierre-Emerick Aubameyang.
Setelah insiden ini, nama Xhaka menghilang dari skuad utama Arsenal. Saat Mikel Arteta menjabat sebagai pelatih, Xhaka dipertahankan sebagai pemain utama Arsenal. Arteta berhasil mengubah perilaku Xhaka yang kemudian berjanji akan memperbaiki performanya di lapangan, sekaligus memperbaiki hubungannya dengan para fans Arsenal.
Xhaka memuji Arteta sebagai sosok pelatih yang berjasa dalam mengubah dirinya dengan memberi kesempatan kedua baginya untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Kapten anti alkohol
Granit Xhaka (lahir 27 September 1992) adalah pesepak bola profesional yang bertanding sebagai gelandang bertahan dan kapten untuk timnas Swiss di Kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Sunderland di Liga Inggris.
Ia adalah adik Taulant Xhaka, pesepakbola Swiss yang bermain untuk klub Basel. Mereka sama-sama lahir dari keluarga berdarah Albania yang berimigrasi ke Swiss dari Kosovo pada era 1990-an.
Xhaka memulai karirnya bersama Basel dan dua kali meraih gelar juara Liga Super Swiss. Ia pindah ke Borussia Monchengladbach pada musim 2012, di mana ia mulai menyandang reputasi sebagai pemain berbakat dan pemimpin tangguh yang temperamental.
Ia berlaga sebagai kapten sejak 2015 dan dua kali membawa Borussia Monchengladbach lolos ke Liga Champions.
Xhaka bertanding di Liga Inggris bersama Arsenal pada 2016 dengan nilai transfer 30 juta euro (Rp 576 M). Ia bertanding hampir 300 kali sebagai kapten selama tujuh musim dan dua kali juara Piala FA. Ia kembali ke Bundesliga pada 2023 bersama Bayer Leverkusen dan berhasil mengantar klubnya juara liga.
Xhaka merupakan bagian dari timnas Swiss sejak Piala Dunia U-17 2009. Ia naik ke tingkat senior pada musim 2011 dengan 141 cap di mana ia tampil di Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022, serta di Piala Eropa 2016, 2020, dan 2024.
Xhaka dikenal publik sepak bola sebagai pemain anti alkohol dan anti pesta, baik selama bermain di Jerman, di Liga Inggris, atau sebagai kapten skuad Swiss. Inilah yang membuatnya tetap tampil prima di lapangan di usia yang tergolong senja bagi pemain sepak bola pada umumnya.
Dalam wawancara dengan sebuah media sepak bola, Xhaka mengungkap bahwa Piala Dunia 2026 mungkin akan menjadi turnamen Piala Dunia yang terakhir baginya.
Le Bris berniat memberikan Xhaka posisi sebagai pelatih kedua bagi tim Sunderland, melihat bakat alaminya sebagai pemimpin bagi rekan-rekannya di lapangan.
Meski demikian, ia menampik tawaran tersebut karena menganggap dirinya belum pantas menjadi pelatih. Xhaka sudah berhasil mendapat sertifikasi A dan B dari UEFA sebagai modalnya untuk menjadi pelatih, tetapi ia mengaku masih ingin berkarir sebagai pemain.
Profil timnas Swiss
Timnas Swiss mewakili Swiss di ajang sepak bola pria dan diawasi oleh Asosiasi Sepak Bola Swiss.
Di Piala Dunia, skuad Salib Merah sudah tiga kali lolos ke perempat final pada 1934, 1938, dan 1954. Pencapaian terbaiknya adalah pada edisi 1954, dimana mereka bertanding melawan Austria di babak perempat final yang berakhir kalah dengan skor 5-7.
Pada Piala Dunia 2006, Swiss mencatat rekor memalukan, yaitu tersingkir tanpa satupun gol usai kalah adu penalti dari Ukraina di babak 16 besar. Di Piala Dunia 2010, Swiss kembali mencetak gol pada menit ke-75 saat berhadapan dengan Chile.
Di bawah format Kualifikasi Piala Dunia 2026, Swiss masih memimpin klasemen Grup B Kualifikasi Zona Eropa dengan 10 poin, unggul tiga angka atas Kosovo. Raihan ini membuat Swiss dipastikan lolos ke Piala Dunia 2026, apa pun hasil beberapa laga yang tersisa.
Meski demikian, tidak ada salahnya memantau jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa agar tahu tim mana yang akan berlaga dalam waktu dekat.