Rivalitas Terlalu Berat, Maza Ogah Bela Jerman di Piala Dunia 2026

Rivalitas Terlalu Berat, Maza Ogah Bela Jerman di Piala Dunia 2026

Mengapa Maza enggan bela Jerman?

Bayer Leverkusen berhasil meraih kemenangan telak melawan Heidenheim dengan skor 6-0 di laga lanjutan Bundesliga.

Pertandingan yang berlangsung di Stadion BayArena diwarnai oleh gol indah oleh pemain striker Aljazair pada menit ke-46 dan ke-56.

Setelah laga berakhir, gelandang 19 tahun itu buka suara tentang mengapa ia lebih memilih membela timnas Aljazair daripada timnas Jerman di Piala Dunia 2026. Ia menjelaskan alasan di balik keputusan ini.

“Ya, saya resmi memutuskan untuk membela timnas Aljazair. Ini sudah keputusan akhir saya. Itu saja,” kata Maza, sambil tersenyum. “Saya membuat keputusan murni berdasarkan alasan keolahragaan, karena lebih sesuai untuk masa depan saya di dunia sepak bola.”

“Di timnas Jerman, perebutan posisi gelandang serang begitu sengit dan ketat. Peluang untuk masuk starting XI semakin sulit dengan hadirnya pemain seperti Jamal Musiala dan Florian Wirtz,” kata mantan pemain Herta Berlin tersebut.

Ia menegaskan bahwa keputusannya tidak didasarkan alasan emosional atau nasionalisme. “Jerman punya banyak gelandang serang berbakat, sehingga akan menjadi lebih sulit bagi saya untuk mendapat tempat di skuad itu,” ujar Maza.

“Dari perspektif olahraga, mewakili Aljazair memberikan saya peluang besar untuk bertanding di Piala Dunia 2026 dan berkompetisi di level tertinggi. Inilah mengapa saya mantap dengan keputusan ini.” 

Keputusan Maza ini bisa dibilang mengejutkan. Pemain muda yang mendapatkan kewarganegaraan suatu negara dari orang tua atau sebagai tempat kelahiran biasanya akan memilih membela tim yang lebih punya nama besar. Contohnya Lamine Yamal yang lebih memilih Spanyol daripada Maroko, negara asal kedua orang tuanya. 

Tampaknya Maza menyadari bahwa tim besar seperti Jerman membutuhkan pemain yang sesempurna mungkin guna mempertahankan gelar dan prestisenya. Akibatnya, pemain dapat merasakan beban besar untuk tampil tanpa kekurangan dan menang. Sedangkan tak semua pemain sanggup bermain baik di bawah tekanan. 

Anak ajaib Bayer Leverkussen

Setelah hadir sebagai salah satu bakat yang paling bersinar di Bundesliga 2 bersama Hertha Berlin, Ibrahim Maza (lahir 24 November 2005) bergabung dengan klub Bayer Leverkusen mulai musim 2025-26.

Saat masih berusia 11 tahun, Maza bergabung dengan akademi Reinickendorf Fuchse. Enam tahun berikutnya, ia beralih dari lapangan bola anak-anak untuk bertanding di Bundesliga sebagai pemain cadangan Hertha Berlin dalam laga kontra Bayern Munich di akhir musim 2022-23.

Hanya sebulan pasca perekrutannya, ia langsung mencetak gol pertamanya dengan menjebol gawang Wolfsburg pada akhir musim itu dan menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Hertha (17 tahun 6 bulan 3 hari).

Setelah Hertha terdegradasi dari Bundesliga sejak 2009-10, Maza menderita cedera lutut yang membuatnya absen hingga pertengahan musim. Ia baru kembali pada pekan ke-21 dalam melawan Greuther Furth.

Musim 2024-25 menghadirkan kisah berbeda. Pria 19 tahun yang kini membela Timnas Aljazair ini selalu tampil di Bundesliga. Ia hanya sekali absen di pekan ke-32 akibat skorsing.

Maza juga mencatat lima gol dan tiga assist. Hasil ini membawa dia untuk naik peringkat ke-8 dalam divisi duel individu yang dimenangkannya (dari segi serangan dan pertahanan).

Sebelum menandatangani kontrak dengan Bayer Leverkussen, Maza sempat memperkuat tim junior Die Mannschaft. Ia bermain sebagai gelandang serang untuk timnas Jerman U18, U19 dan U20 sebelum menyatakan bergabung dengan timnas Aljazair. 

Sejauh ini, Maza sudah dua kali tampil untuk skuad Rubah Gurun (julukan timnas Aljazair) dan bertanding bersama para bintang Bundesliga asal Aljazair lainnya, seperti Ramy Bensebaini (Borussia Dortmund), Fares Chaibi (Eintracht Frankfurt), dan Mohamed Amoura (Wolfsburg). Perjalanan pertamanya bersama skuad Desert Foxes berakhir dengan kemenangan 5-1 atas Togo di akhir 2024 lalu.

Media resmi Bundesliga membandingkan gaya bermain Maza dengan pesepakbola Armenia, Henrikh Mkhitaryan, yang pernah memperkuat Borussia Dortmund. Keahliannya memainkan bola bisa membuat gelandang lawan kerepotan. Tendangan jarak jauh dan passingnya yang selalu akurat memberikan warna tersendiri bagi Bundesliga. 

Pelatih Leverkussen Simon Rolfes memuji Maza sebagai pemain muda yang paling bersinar saat ini. Ia bukan saja memiliki gaya bermain yang dibutuhkan Leverkusen untuk menang, tetapi juga kemampuan teknis, serta kerja sama tim yang baik. Ia punya cara tersendiri untuk membangun semangat rekan-rekan setimnya saat mereka mulai turun di lapangan. 

Maza merupakan pemain berdarah Aljazair-Vietnam, sehingga ia juga bisa masuk timnas Vietnam bila ia mau.

Profil timnas Aljazair

Timnas Aljazair mewakili Aljazair di kancah sepak bola internasional pria dan berada di bawah pengawasan oleh Federasi Sepak Bola Aljazair. Mereka menjalani laga kandang di Stadion 5 Juli di Aljazair dan Stadion Miloud Hadefi di Oran.

Satu setengah tahun sejak kemerdekaannya, Aljazair bergabung dengan FIFA pada 1 Januari 1964.

The Fennecs, sebutan lain timnas Aljazair, sudah lima kali lolos Piala Dunia, yaitu edisi 1982, 1986, 2010, 2014, dan 2026. Mereka pernah meraih dua gelar juara Piala Afrika pada tahun 1990 sebagai wakil tuan rumah dan pada tahun 2019 di Mesir.

Selain itu, timnas sepak bola Aljazair sering mencatat sejumlah prestasi yang cukup membanggakan. Di antaranya, juara Mediterranean Games 1975 cabor sepak bola pria, juara All-Africa Games 1978 cabor sepak bola pria, juara Piala Afro-Asia 1991, dan Juara Piala Arab 2021.

Saat menjalani laga-laga melawan Nigeria pada 1980-an, Aljazair memiliki beberapa pesaing terkuat, yaitu Mesir, Maroko, dan Tunisia. Mali dan Senegal menjadi pesaing The Fennecs setelah berbagi batasan.

Timnas Aljazair mencatat dua pencapaian terbaik selama masa penampilannya di Piala Dunia. Pertama, mereka meraih kemenangan 2-1 atas Jerman Barat pada Piala Dunia 1982.

Kedua, mereka membuat kejutan dengan menjadi wakil Afrika pertama yang mencetak empat gol dalam satu pertandingan saat menjamu Korea Selatan pada Piala Dunia 2014.

Di bawah asuhan pelatih asal Bosnia, Vladimir Petkovic, the Fennec berhasil mencatat poin sempurna di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika, yaitu 25 poin. Di bawah format baru Kualifikasi Piala Dunia 2026, Aljazair berada di Grup G zona Afrika bersama Uganda, Mozambik, Guinea, Botswana, dan Somalia. 

Dari 10 laga yang mereka jalani selama kualifikasi, Aljazair menang 8 kali, imbang 1 kali, dan hanya 1 kali kalah. 

Rahasia prestasi cemerlang Aljazair, yang saat ini menduduki peringkat ke-35 FIFA, adalah berkat infrastruktur sepak bola yang telah dibangun sejak Aljazair masih berstatus sebagai wilayah jajahan Prancis. 

Saat merdeka, peninggalan Prancis di bidang olahraga tidak ditinggalkan, melainkan diteruskan. Orang-orang Aljazair diterima dengan baik di Eropa untuk menuntut ilmu, termasuk di bidang sepak bola. 

Timnas Aljazair diperkuat sejumlah nama yang sudah tak asing bagi para penggemar sepak bola Eropa, terutama penggemar Ligue 1 Prancis, Liga Premier Inggris, dan Bundesliga Jerman. 

Bek Aissa Mandi yang bermain untuk Lille, Amine Gouiri (Marseille), dan gelandang Hicham Boudaoui di Nice menuntut ilmu sepak bola Prancis, pemenang Piala Dunia 2018. Anis Hadj Moussa yang merumput di Feyenoord dan kapten tim Riyad Mahrez yang bermain di Liga Arab merupakan dua di antara lima penyerang andalan Aljazair.  Selain itu, para fans Liga Inggris tentunya sudah pernah menonton aksi Rayan Ait Nouri bermain untuk Manchester City bersama Erling Haaland. 

Pemain Aljazair juga dikenal cukup laris dan diminati klub-klub dari berbagai negara di luar Eropa, termasuk Amerika Serikat dan Arab Saudi. 

Lantas, berhasilkah Aljazair menembus prestasi yang lebih baik di Piala Dunia 2026? Sambil menanti, pantau jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa untuk menyaksikan mana tim Eropa yang berpotensi jadi lawan mereka. 

Mainkan Taruhan Laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Sekarang!

Berita Terbaru