Sudah Tak Berduka, Stamenic Siap Bela Selandia Baru di Piala Dunia 2026 

Sudah Tak Berduka, Stamenic Siap Bela Selandia Baru di Piala Dunia 2026

Selandia Baru merupakan salah satu dari beberapa tim pertama yang lolos Kualifikasi Piala Dunia 2026. Salah satu pemain andalan All Whites (julukan timnas Selandia Baru) adalah gelandang berdarah Serbia, Marko Stamenic, yang bermain di Divisi Dua Liga Inggris. 

Gol spesial untuk ayah 

Gelandang Selandia Baru, Marko Stamenic, mendedikasikan gol pertamanya bersama Swansea City untuk mendiang ayahnya, Nikola.

“Hal ini sangat berarti, yakni selalu bertindak emosional untuk berpikir tentang seseorang yang begitu dekat dengan saya dan dekat dengan keluarga kami,” katanya setelah mencetak gol penentu kemenangan Swansea City 2-0 atas Oxford United di liga divisi dua Inggris yang disebut EFL Championship.

Stamenic baru saja kembali bertanding di lapangan setelah kematian ayahnya pada Oktober lalu. Ia mengakui bahwa golnya merupakan momen yang emosional.

“Gol itu pastinya didedikasikan untuk ayah, untuk kerja keras kami hingga saya mencapai posisi saat ini. Meninggalnya ayah adalah kehilangan besar bagi saya, tetapi saya tahu ia menyaksikan saya bertanding dari alam baka,” ucap pria 23 tahun itu. “Saya sangat senang atas gol ini dan bangga untuk berkontribusi kepada tim.”

Dalam wawancara sesudah pertandingan, pemegang 35 cap itu mengatakan bahwa ia percaya kemenangan Swansea City layak diraih berkat latihan yang dijalaninya menjelang pertandingan.

“Ini adalah tiga poin yang telah kita perjuangkan dan kami bisa melakukannya bersama dalam satu performa,” ujar Stamenic. “Kami telah bekerja keras semaksimal mungkin untuk satu sama lain dan inilah hasilnya, kami berhasil meraih tiga poin. Kami senang bisa kembali ke jalur kemenangan dan ingin menjadikannya sebagai landasan bagi kemenangan-kemenangan lain sejak sekarang.”

Dari Selandia Baru menjelajah Eropa 

Lahir di Wellington, Stamenic merupakan lulusan Akademi Sepak Bola Ole. Pada saat itu, ia menjalani pertandingan pertamanya bersama Suburbs Barat di Central Premier League pada musim 2017. Semusim kemudian, ia lolos ke babak final Piala Chatham.

Stamenic hijrah ke Team Wellington pada musim 2019. Ia bertanding sebanyak tujuh kali dan hanya mencetak satu gol saat menjamu Southern United.

Satu tahun berikutnya, Stamenic mendapat panggilan dari FC Copenhagen untuk menjalani uji coba selama tiga hari berkat keberhasilannya selama Piala Dunia U-17 2019. Sebelumnya ia sempat dikabarkan akan hijrah ke salah satu klub Liga Italia, Flamengo.

Namun, uji coba Stamenic di Flamengo harus tertunda akibat pandemi COVID-19, di mana Stamenic harus kembali ke Selandia Baru sesuai aturan pemerintah setempat. Meski demikian, FC Copenhagen tetap tertarik, sehingga Stamenic memutuskan untuk bergabung dengan FC Copenhagen U19.

Pemain muda tersebut menjalani pertandingan perdananya bersama FC Copenhagen dengan kekalahan 1-2 dari Randers FC. Tiga tahun kemudian, Stamenic memutuskan untuk hengkang dari FC Copenhagen dan hijrah ke Red Star Belgrade. 

Sebenarnya Stamenic sudah menandatangani kontrak selama empat tahun dengan Belgrade. Penampilannya bersama klub tanah kelahiran ayahnya ini juga dapat dibilang sebagai yang terbaik, karena ia mencatat 35 assists sepanjang 2023-2024.  

Namun, entah bagaimana Nottingham Forest menjadi perjalanan berikutnya bagi Stamenic di Liga Inggris pada 2024. Stamenic menandatangani kontrak selama lima tahun dengan Forest, tetapi ia menjalani masa pinjamannya bersama Olympiacos selama semusim. 

Pada Agustus lalu, Stamenic meninggalkan Nottingham Forest tanpa sekalipun tanding. Ia bergabung dengan Swansea City dengan biaya mencapai 2 juta euro (Rp 39,2 juta).

Selain bertanding di kancah klub, Stamenic juga bertanding di tingkat internasional. Ia mengawali karir yang sulit bersama Selandia Baru U-17 sebagai pemain cadangan, di mana mereka kalah telak 0-5 dari Solomon Islands pada OFC U-16 Championship 2018.

Kemudian ia menjalani beberapa pertandingan Selandia Baru. All Whites berhadapan dengan Papua Nugini di babak penyisihan grup. Kemudian, mereka lolos ke babak semifinal dan menjamu Tahiti. Selanjutnya, Selandia Baru berhasil mengalahkan Kepulauan Solomon dengan menang adu penalti 5-4 di babak final.

Stamenic menjalani tiga pertandingan bersama Selandia Baru di Piala Dunia U-17 2019. Namun, perjalanan mereka harus berhenti di babak penyisihan grup setelah finis ketiga pada grup mereka.

Selanjutnya, pesepakbola yang dilahirkan pasangan Serbia-Samoa ini mendapat panggilan dari timnas Selandia Baru untuk bertanding di Olimpiade 2020 pada 25 Juni 2021.

Tiga bulan kemudian, Stamenic menjalani debut perdananya bersama timnas senior Selandia Baru saat menjamu Curacao. Pertandingan berakhir dengan kemenangan All Whites 2-1.

Tim tak terkalahkan di Piala Dunia 2010

Timnas Selandia Baru mewakili Selandia Baru di kompetisi sepak bola internasional pria. Mereka berada dalam pengawasan New Zealand Football (NZF), yang saat ini merupakan anggota FIFA dan Konfederasi Sepakbola Oseania (OFC). 

Tim yang memulai laga internasional pertamanya pada 1904 ini sudah tiga kali mengikuti Piala Dunia (1982, 2010, 2026). Selandia Baru sudah enam kali memenangi kompetisi regional OFC Cup. Di Piala Dunia 2010, Selandia Baru merupakan satu-satunya tim yang tidak pernah kalah di babak penyisihan grup karena semua laga mereka berakhir seri. 

Sebagai bekas jajahan Inggris, Selandia Baru memiliki kaitan erat dengan negara kerjaan tersebut. Pada Piala Dunia 1982, mayoritas pemain Selandia Baru merupakan pemain kelahiran Inggris, sehingga publik sepak bola mengkritisi hal ini. 

Tren ini berubah pada Piala Dunia 2010, ketika sebagian besar pemain Selandia Baru merupakan pemain MLS (liga premier Amerika Serikat). Hal ini tak terlepas dari kepindahan Bobby Clark, tokoh sepakbola ternama dari Skotlandia, yang melatih klub MLS setelah sempat melatih All Whites.

Mereka bertanding di Nations Cup 2012 Zona Oseania sebagai kandidat untuk memenangi dua laga dengan skor masing-masing 1-0 dan 2-1 serta hasil imbang 1-1 atas Salomon. Pada babak berikutnya, mereka terhenti di babak semifinal usai kalah 0-2 dari Kaledonia Baru. Sialnya, All Whites juga tersingkir di babak play off antar konfederasi Piala Dunia 2014 usai kalah agregat 3-9 dari Meksiko.

Sebulan usai Piala Dunia 2014, Anthony Hudson menjabat sebagai pelatih Selandia Baru. Pertandingan pertama Hudson sebagai pelatih berakhir dengan kekalahan 1-3 dari Uzbekistan. Karena All Whites hanya tiga kali bertanding pada 2013 dan menghabiskan tujuh bulan tanpa tanding, mereka turun ke peringkat 161 di klasemen FIFA.

Timnas Selandia Baru menebus kesalahannya dengan memenangi empat laga di Nations Cup 2016 Zona Oseania. Mereka berhasil lolos ke babak final dan meraih gelar juara setelah memenangi adu penalti 1-0 atas Papua Nugini. 

Kemenangan ini membuat All Whites menjadi tim tersukses dalam sejarah turnamen itu. Mereka telah lima kali juara Nations Cup Zona Oseania dan berhasil lolos ke Piala Konfederasi 2017 Rusia. Berkat sejumlah keberhasilan ini, Selandia Baru naik peringkat ke-88 di Klasemen FIFA.

Setelah tampil buruk di Piala Konfederasi 2017 usai hanya sebagai juru kunci grup yang terdiri atas Rusia, Meksiko, dan Portugal, Selandia Baru merosot ke peringkat ke-122 FIFA.

Pada September 2017, Selandia Baru memenangi babak final OFC melawan Kepulauan Solomon dengan skor agregat 8-3 untuk lolos ke babak play off antar konfederasi melawan Peru. Setelah menahan imbang Peru pada leg pertama, mereka kalah 0-2 di leg kedua dan gagal lolos ke Piala Dunia 2018.

Setelah vakum selama dua tahun, All Whites kembali bertanding di laga persahabatan pada 2021 dan mendapat hasil positif pada tiga dari beberapa pertandingan yang dijalaninya. Timnas Selandia Baru berhasil memenangi semua pertandingan dan mencetak rekor di Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Oseania. Sang striker, Chris Wood, menjadi pencetak gol terbanyak All Whites usai mencetak dua gol saat menjamu dengan Fiji.

Dengan kemenangan itu, mereka lolos ke babak play off antar konfederasi. Pada pertandingan play off melawan Kosta Rika, mereka kebobolan di awal laga berkat gol Joel Campbell. Namun, Selandia Baru mulai memberi tekanan pada menit ke-39, saat Chris Wood sempat menyamakan kedudukan sebelum golnya dianulir saat VAR menunjukkan bahwa Matthew Garbett melakukan pelanggaran terhadap Oscar Duarte sebelum gol. Saat pertandingan berakhir, Selandia Baru dinyatakan gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan mereka tersingkir dari babak playoff Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Pada Juni 2023, Darren Bazeley mulai menjabat sebagai pelatih baru All Whites. Di masa kepemimpinannya, gelandang Selandia Baru, Michael Boxall mendapat ancaman rasisme dari pemain Qatar Yusuf Abdurisag dalam sebuah laga persahabatan. Akibat aksi protes dari pemain Timnas Selandia Baru terhadap wasit karena tidak bertindak dalam situasi ini, mereka langsung mengakhiri pertandingan lebih awal. 

Selandia Baru diperkuat deretan pemain yang sebagian besar bermain di liga lokal, liga Inggris, Swedia, dan Amerika Serikat. Torehan mencengangkan mereka baru-baru ini adalah menahan imbang Norwegia, tim yang disebut-sebut sebagai kuda hitam Piala Dunia 2026, dengan skor 1-1.  

Di Piala Dunia 2026, All Whites akan berhadapan dengan Belgia, Iran, dan Mesir di Grup G. Pertandingan di Grup G format baru Piala Dunia 2026 diyakini akan menarik karena semua tim punya kualitas yang sama. 

Bagaimana peluang Selandia Baru untuk lolos ke fase 32 besar? Cek jadwal Piala Dunia 2026 Grup G sebagai acuan analisa Anda. 

Mainkan Taruhan Laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Sekarang!

Berita Terbaru