
Seiring meningkatnya antusiasme kalangan penggemar sepak bola menjelang Piala Dunia 2026, para staf kesehatan mendesak para wisatawan untuk memeriksa status vaksinasi mereka sebelum bertolak ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Turnamen sepak bola terakbar ini akan menjadi pusat perhatian dunia, di mana jutaan pasang mata suporter sepak bola akan tertuju ke sejumlah kota seperti Atlanta, Houston, Los Angeles, Vancouver, dan Guadalajara.
Hingga 6 Februari, tidak ada peraturan yang mewajibkan para wisatawan divaksin sebelum masuk ke kota-kota tuan rumah Piala Dunia 2026. Peraturan ini juga belum pernah diterapkan di berbagai edisi Piala Dunia sebelumnya.
Namun, peningkatan jumlah kasus penyakit menular telah menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko kesehatan di kalangan pemegang tiket Piala Dunia 2026.
Pada 2025 lalu, Amerika Serikat telah mencatat sekitar 14.000 kasus campak.
Sementara di Meksiko tercatat 6.428 kasus dan 24 kematian di akhir Januari lalu. Kanada mencatat jumlah 5.436 kasus dan 2 kematian, serta Amerika Serikat mencatat 2.242 kasus dan 3 kematian.
Di Jalico, salah satu negara bagian Meksiko di mana Stadion Guadalajara berada, telah diberlakukan peraturan wajib masker di sekolah – sekolah. Pemerintah setempat juga mengeluarkan peringatan agar masyarakat Meksiko mewaspadai wabah campak pada 2026.
Sementara di Los Angeles County, tujuh kasus demam berdarah telah terkonfirmasi pada akhir tahun 2025. Kasus tersebut telah ditemukan di sejumlah daerah, termasuk San Gabriel Valley, yang melaporkan 11 kasus yang terjadi secara lokal pada 2024 lalu.
Untuk mencegah bencana kesehatan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO) telah mengeluarkan rekomendasi vaksin secara komprehensif untuk para peserta acara olahraga. Pedoman ini didasarkan pada saran kesehatan perjalanan standar yang disesuaikan untuk para wakil tuan rumah, yang akan menghadapi kerumunan massa dalam skala besar dan perjalanan lintas batas yang terkait dengan ajang turnamen sepak bola empat tahunan tersebut.
Selain itu, CDC menyatakan bahwa padatnya kerumunan yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah penonton sebagai dampak format baru Piala Dunia 2026 berkontribusi terhadap risiko kesehatan. Kerumunan yang lebih padat dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit, karena para wisatawan yang membawa penyakit ke kerumunan massa dapat menginfeksi sesama penonton dan penduduk setempat.
Menanggapi ancaman kesehatan ini, sejumlah kota penyelenggara berusaha untuk meningkatkan jumlah klinik vaksinasi di dekat lokasi pertandingan, dan FIFA telah bermitra dengan sejumlah badan kesehatan untuk menghimbau masyarakat, khususnya para penggemar sepak bola.
Para wisatawan disarankan untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan atau klinik perjalanan setidaknya empat hingga enam pekan sebelum berangkat untuk memastikan mereka agar terlindungi sepenuhnya dari beberapa penyakit, karena beberapa vaksin membutuhkan beberapa dosis atau waktu untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Rekomendasi vaksinasi rutin sedikit berbeda oleh sejumlah negara tuan rumah, khususnya di Meksiko. Negara ini diketahui memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air, serta vaksin terkait perjalanan seperti chikungunya dan demam berdarah.
Selain itu, vaksinasi demam kuning tidak diwajibkan atau disarankan untuk AS, Kanada, atau Meksiko, karena ketiga negara tersebut tidak dianggap sebagai daerah endemi demam kuning.
Secara khusus, bukti vaksinasi (YF-VAX, Stamaril) bisa diperlukan jika para suporter berasal dari suatu negara yang memiliki risiko demam kuning.
Beberapa bulan menjelang Piala Dunia 2026 format baru, para petugas kesehatan mendesak masyarakat untuk mengambil langkah proaktif.
Anda dapat melihat pembaruan terkini dengan mengunjungi situs Kesehatan Wisatawan CDC atau berkonsultasi ke pakar vaksin perjalanan lokal.
Karena pertandingan sepak bola menyatukan dunia, menjaga diri agar tetap terlindungi memastikan bahwa semua orang dapat menikmati tontonan tersebut dengan aman.
Para suporter yang akan berangkat ke Meksiko guna menyaksikan turnamen playoff Piala Dunia 2026 FIFA lebih baik mematuhi himbauan FIFA demi mencegah kenangan buruk COVID 19 terulang kembali.
Mengingat Meksiko juga akan menjadi tuan rumah turnamen playoff Piala Dunia 2026, yang sering kali dianggap sebagai ajang uji coba pra Piala Dunia, kampanye vaksinasi digalakkan kembali di negara Claudia Sheinbaum. Bahkan pemakaian masker kembali diwajibkan di sekolah-sekolah, terutama wilayah dengan jumlah penderita campak tertinggi.
Campak: gejala, penularan, dan pencegahannya
Campak (berasal dari bahasa Belanda Pertengahan atau Jerman Pertengahan masel(e), yang berarti noda, lepuh darah) adalah penyakit menular yang dapat menyebar dengan mudah akibat virus campak dan dapat dicegah dengan vaksin.
Gejala ini biasanya muncul 10–12 hari setelah terpapar orang yang terinfeksi dan berlangsung selama 7-10 hari. Gejala awal biasanya meliputi demam yang mencapai suhu lebih dari 40 °C (104 °F), batuk, pilek, dan mata meradang. Dua atau tiga hari setelah gejala terjadi, bintik-bintik putih kecil yang dikenal sebagai bintik Koplik dapat terbentuk di dalam mulut.
Ruam merah yang biasanya terjadi di wajah dan menyebar ke seluruh tubuh biasanya dimulai tiga hingga lima hari setelah gejala muncul. Ada beberapa komplikasi umum yang meliputi diare (dalam 8% kasus), infeksi telinga tengah (7%), dan pneumonia (6%). Hal ini terjadi sebagian karena imunosupresi yang disebabkan oleh campak. Kejang, kebutaan, atau peradangan otak menjadi gejala tambahan dalam penyakit tersebut.
Campak adalah penyakit yang ditularkan melalui udara dan mudah menyebar dari satu orang ke orang lain melalui batuk dan bersin orang yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan mulut atau hidung. Penyakit ini sangat menular karena sembilan dari sepuluh orang yang tidak kebal dan tinggal serumah dengan orang yang terinfeksi akan tertular.
Selain itu, perkiraan angka reproduksi campak bervariasi di luar kisaran yang sering dikutip yaitu 12 hingga 18, dengan tinjauan yang dilakukan pada tahun 2017 memberikan kisaran 3,7 hingga 203,3. Orang yang terinfeksi dapat menularkan penyakit ini kepada orang lain mulai sebelum dan hingga empat hari setelah munculnya ruam.
Meskipun sering dianggap sebagai penyakit anak-anak, campak dapat menyerang orang dari segala usia. Kebanyakan orang tidak tertular penyakit ini lebih dari sekali. Pengujian virus campak pada kasus tertentu penting untuk upaya kesehatan masyarakat.
Campak dapat menyebabkan penyakit serius yang membutuhkan rawat inap. Beberapa komplikasi disebabkan langsung oleh virus, sementara komplikasi lainnya disebabkan oleh penekanan sistem kakabalan tubuh oleh virus. Fenomena yang dikenal sebagai amnesia imun tersebut meningkatkan risiko infeksi bakteri sekunder, dua bulan setelah sembuh terjadi penurunan 11–73% dari jumlah antibodi terhadap bakteri dan virus lain.
Sebelum virus campak muncul, studi populasi menunjukkan bahwa amnesia imun biasanya berlangsung 2–3 tahun. Studi primata menunjukkan bahwa amnesia imun pada campak dipengaruhi oleh penggantian limfosit memori dengan limfosit yang spesifik terhadap virus campak, karena limfosit tersebut hilang setelah terinfeksi virus. Hal ini menciptakan kekebalan yang bertahan lama terhadap infeksi ulang campak, tetapi menurunkan kekebalan terhadap patogen lain.
Beberapa golongan yang rentan terpapar campak merupakan mereka yang mengalami imunodefisiensi yang disebabkan oleh HIV/AIDS; imunosupresi setelah menerima transplantasi organ atau sel punca, agen alkilasi, atau terapi kortikosteroid; sedang melakukan perjalanan ke beberapa daerah yang menjadi sumber penyebaran campak, atau kontak dengan wisatawan dari daerah tersebut; dan hilangnya antibodi pasif yang diwariskan sebelum usia imunisasi rutin. Intinya, seseorang akan lebih rentan terhadap campak apabila berada dalam kondisi di mana sistem kekebalan tubuhnya menurun.
Campak dapat dicegah pada individu melalui vaksinasi (imunitas aktif) atau penerimaan antibodi anti-campak (imunitas pasif), dan pada populasi melalui imunitas kelompok. Selama kehamilan, antibodi dapat menembus plasenta ke dalam sirkulasi janin, memberikan imunitas pasif kepada bayi baru lahir. Imunitas ini berkurang selama tahun kehidupan pertama. Perlu dicatat bahwa imunisasi dengan vaksin hidup tidak dianjurkan selama hamil karena ibu hamil yang tidak kebal terhadap campak harus diimunisasi setelah melahirkan.
Di sejumlah tempat yang menjadi lokasi penanganan campak, anak-anak berusia 12-18 bulan wajib diimunisasi menggunakan vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubella). Di sebagian besar tempat yang merupakan lokasi endemi campak, Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan untuk melakukan imunisasi pada balita berusia 9 bulan dan 18 bulan. Dalam wabah aktif, dosis tambahan dianjurkan untuk bayi berusia 6-11 bulan.
Vaksin harus diberikan kepada anak yang terinfeksi dan tidak terinfeksi virus HIV. Vaksin ini kurang efektif pada bayi dibandingkan pada populasi umum, tetapi pengobatan dini dengan obat antiretroviral dapat meningkatkan efektivitasnya. Program vaksinasi campak juga sering digunakan untuk memberikan intervensi kesehatan anak lainnya, seperti kelambu untuk melindungi dari penyakit malaria, obat antiparasit, dan suplemen vitamin A sehingga berkontribusi pada pengurangan kematian anak akibat penyakit lain.
Namun, ada klaim palsu mengenai hubungan antara vaksin campak dan autisme. Kekhawatiran ini telah mengurangi tingkat vaksinasi dan meningkatkan jumlah kasus campak sehingga tingkat imunisasi terlalu rendah untuk mempertahankan kekebalan kelompok. Selain itu, ada klaim palsu bahwa infeksi campak melindungi diri dari kanker.
Lebih dari 95% populasi harus divaksin untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) karena angka reproduksi campak yang tinggi.
Campak jauh lebih mudah menular daripada COVID 19
Campak adalah salah satu penyakit yang paling menular. Satu orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus ini ke 12–18 orang lain di populasi yang tidak divaksin, seperti di beberapa kota tuan rumah Piala Dunia 2026. Secara keseluruhan, penyakit campak dua kali lebih menular dari COVID-19.
Hal ini antara lain karena partikel virus campak dapat bertahan di udara hingga dua jam di ruang tertutup. Di lingkungan seperti stadion yang dipenuhi puluhan ribu penonton, terutama di area tertutup seperti lorong, toilet, atau transportasi umum menuju stadion, risiko penularan bisa meningkat jika ada satu saja kasus aktif yang tidak terdeteksi. Penularan juga bisa terjadi di hotel, restoran, atau pusat perbelanjaan yang ramai di kota tuan rumah. Demikian pula dengan berbagai acara yang akan diadakan bersamaan dengan Piala Dunia 2026, seperti acara nonton bareng atau hiburan, juga bar dan restoran yang akan menggelar acara nobar.
Karakteristik Piala Dunia 2026 memperbesar potensi penyebaran lintas negara. Penggemar datang dari berbagai benua, dengan tingkat cakupan vaksin yang berbeda-beda. Beberapa negara masih menghadapi wabah campak akibat penurunan imunisasi rutin selama pandemi COVID-19.
Jika seseorang yang terinfeksi melakukan perjalanan dan menghadiri beberapa pertandingan dalam beberapa hari, virus dapat menyebar dengan cepat sebelum gejala khas seperti ruam muncul. Masa inkubasi campak sekitar 10 hingga 14 hari, sehingga seseorang bisa menularkan virus tanpa menyadari dirinya sakit.
Vaksin belum jamin kekebalan terhadap virus campak
Di Indonesia, imunisasi campak wajib diberikan kepada bayi sejak usia 2 bulan. Vaksin campak biasanya diberikan dalam bentuk MMR (measles, mumps, rubella). Dua dosis vaksin memberikan perlindungan sekitar 97 persen terhadap campak. Artinya, sebagian besar orang yang sudah mendapat dua dosis akan memiliki kekebalan jangka panjang, sering kali bertahan seumur hidup.
Namun, ada beberapa kondisi yang membuat orang yang sudah divaksin tetap bisa terkena campak saat dewasa.
Pertama, kegagalan vaksin primer. Ini terjadi ketika tubuh tidak membentuk kekebalan yang cukup setelah vaksinasi, meskipun jadwalnya sudah benar. Kasus ini jarang, tetapi tetap mungkin terjadi.
Kedua, hanya menerima satu dosis. Di beberapa negara atau pada generasi tertentu, ada yang hanya mendapatkan satu kali vaksin saat kecil. Satu dosis memang sudah cukup baik, tetapi tingkat perlindungannya lebih rendah dibanding dua dosis.
Ketiga, gangguan sistem kekebalan. Orang dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan imun bawaan atau yang menjalani terapi imunosupresif, bisa memiliki respons kekebalan yang lebih lemah atau kekebalan yang menurun.
Keempat, kesalahan pencatatan atau riwayat vaksin yang tidak jelas. Ada orang yang mengira sudah divaksin lengkap, padahal belum.
Meski demikian, jika orang yang sudah divaksin lengkap tetap terinfeksi, biasanya gejalanya lebih ringan dibanding orang yang sama sekali tidak divaksin. Risiko komplikasi seperti pneumonia atau radang otak juga cenderung lebih rendah.
Bagi orang dewasa yang ragu dengan status vaksinasi, ada beberapa pilihan. Mereka bisa memeriksa catatan imunisasi lama jika tersedia. Jika tidak ada bukti tertulis dan tidak yakin pernah mendapat dua dosis, biasanya aman untuk menerima vaksin MMR ulang. Vaksin tambahan pada orang yang sudah kebal tidak berbahaya.
Singkatnya, seseorang yang sudah divaksin campak saat bayi memang masih bisa terkena campak saat dewasa, tetapi peluangnya kecil jika vaksinasi lengkap. Kekebalan populasi yang tinggi tetap menjadi kunci agar virus tidak mudah menyebar, termasuk kepada mereka yang perlindungannya tidak sempurna.