Quo Vadis, Italia? Kisah Yang Tercecer Setelah Kegagalan Piala Dunia 2026  

Akibat ‘Kutukan’ Zidane? 

Tersingkirnya Italia dari Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa tidak hanya meninggalkan luka di dunia olahraga, tetapi juga memicu gelombang teori di kalangan para penggemar. Setelah kalah dari Bosnia & Herzegovina melalui adu penalti usai bermain imbang 1-1, tak seorangpun membayangkan bahwa Azzurri akan absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Namun, di luar kegagalan tersebut, media sosial riuh oleh narasi yang hampir terlupakan banyak orang, yakni ‘Kutukan Zinedine Zidane.’ Berdasarkan pantauan kami di X (dulu Twitter), sejumlah fans dan pengamat menganggap kehancuran Italia bukan hanya tentang sepak bola, tetapi ‘karma’. Mereka menyebut tentang apa yang terjadi di babak final Piala Dunia 2006.

Berdasarkan reaksi penggemar dan analisis yang beredar, pola tersebut tampak sangat konsisten.

Pertandingan ini sempat terkendali bagi skuad asuhan Gennaro Gattuso. Moise Kean mencetak gol pembuka dan membangkitkan kembali harapan untuk kembali ke Piala Dunia. Namun, semuanya berubah setelah Alessandro Bastoni diusir keluar lapangan pada menit ke-41.

Dengan sepuluh pemain tersisa, Italia bertahan hingga Haris Tabakovic menyamakan kedudukan di menit ke-79. Sejak saat itu, Azzurri mulai terguncang secara emosional.

Adu penalti berubah menjadi bencana. Gianluigi Donnarumma gagal menghentikan satu pun tembakan, sementara Bosnia berhasil mencetak gol dari semua tendangan penalti mereka dengan sempurna.

Hasil ini bukan hanya berarti gagal lolos, tetapi juga merupakan periode kelam yang seolah tanpa akhir dalam sejarah sepak bola Italia.

Untuk memahami teori ‘Kutukan Zidane’, mari kita kembali ke babak final Piala Dunia 2006. Pada malam itu, Zinedine Zidane diusir dari lapangan setelah menanduk Marco Materazzi. Italia berhasil mengangkat trofi, tetapi menurut laporan yang kembali beredar, legenda Prancis itu diduga menyampaikan pesan yang mengerikan:

“Ini akan menjadi Piala Dunia terakhir yang kalian menangkan,” bunyi pesan itu.

Sejak saat itu, angka-angka semakin mendukung ucapan Zidane. Italia tersingkir di babak penyisihan grup di Piala Dunia 2010 dan 2014, gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022, serta tersingkir di babak play-off Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Meski teori kutukan mendominasi percakapan, fakta menunjukkan masalah yang lebih mendalam. Berdasarkan analisis dan debat media yang sedang berlangsung, Italia menghadapi krisis struktural yang ditandai dengan kekurangan pemain berbakat, keputusan yang menjadi tanda tanya, dan performa yang tidak konsisten.

Namun, narasi emosional tetaplah kuat. Bagi banyak penggemar, ‘Kutukan Zidane’ menawarkan penjelasan untuk hal yang tak terbayangkan tentang hancurnya sang juara dunia empat kali ke dalam penurunan historis.

Faktanya adalah Italia akan menjalani sekitar satu dekade tanpa sekalipun lolos ke Piala Dunia.

Italia gagal lagi, Buffon mundur 

Kegagalan Italia bukan hanya ditangisi warga negara mereka, tetapi juga para penggemar berat sepak bola Italia dari seluruh dunia. Anda yang menghabiskan masa muda di era 90-an pasti tahu banget apa arti menjadi tifosi dan masih ingat malam-malam akhir pekan bersama siaran live Serie A di layar televisi. 

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengundurkan diri di tengah tekanan politik, tepatnya dua hari setelah timnya gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut.

Keputusan Gabriele Gravina diikuti oleh pengunduran diri Gianluigi Buffon sebagai kepala delegasi tim nasional. Keputusan ini kemungkinan besar juga akan memicu pemecatan pelatih Italia, Gennaro Gattuso.

Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi menyerukan perubahan kepemimpinan sepak bola negeri Pizza itu setelah Gravina mengawasi dua rangkaian kualifikasi Piala Dunia 2026 yang mengecewakan.

“Sudah jelas bagi siapapun bahwa sepak bola Italia perlu dirombak,” kata Abodi, “dan proses itu perlu dimulai dengan kepemimpinan baru di FIGC [federasi].”

Bahkan setelah jumlah peserta ditambah menjadi 48 negara di bawah format baru Piala Dunia 2026, Italia masih juga gagal memanfaatkan peluang tersebut dengan baik untuk mengakhiri puasa gelarnya. 

Merajut masa depan Azzurri 

Namun, dunia belum kiamat. Italia punya waktu empat tahun untuk memperbaiki diri dan berusaha lolos Kualifikasi Piala Dunia 2030 yang juga akan digelar di tiga negara, yaitu Spanyol, Portugal, Maroko.

FIGC ingin menyelaraskan pelatihan di sejumlah besar klub yang melatih sekitar 700.000 anak berusia 5-15 tahun, dengan tujuan untuk memotivasi para pelatih agar memprioritaskan pengembangan keterampilan individu pemain muda sehingga generasi pemain bintang baru dapat muncul.

“Tidak ada metodologi yang berkata ‘mari kita coba mengembangkan cara bermain sepak bola ini’,” kata Perrotta. Ia percaya bahwa telah terjadi ‘penurunan’ kemampuan teknis di kalangan pemain sepak bola Italia.

Proyek ini menyediakan kursus online gratis untuk para pelatih, sementara kelompok kecil staf pelatihan FIGC yang tersebar di negara ini akan mengunjungi klub sepak bola usia muda setiap dua pekan sekali. Perrotta mengatakan bahwa ide ini bertujuan ‘untuk membawa federasi masuk ke dalam klub.’

Fase ini akan diluncurkan pada Oktober mendatang dan akan berpusat pada 162 klub di Serie D, divisi keempat regional Italia dan level tertinggi sepak bola amatir di negara tersebut.

Salah satu topik pembicaraan yang sering dibahas di Italia adalah bahwa anak-anak muda tidak lagi bermain sepak bola tanpa pengawasan di jalanan. Sedangkan biaya pengiriman anak-anak ke klub sepak bola menjadi penghalang bagi anak-anak yang kurang mampu.

FIGC bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dasar dengan bekerja sama dengan dewan lokal untuk mencoba menciptakan lebih banyak ruang di mana anak muda dapat bermain tanpa harus membayar.

“Kami ingin bekerja sama dengan sejumlah lembaga untuk membantu meningkatkan jumlah jam bermain bagi anak-anak karena salah satu hal yang kami perhatikan adalah perbedaan waktu antara negara ini dan negara lain dalam hal seberapa banyak mereka berlatih dan melakukan kontak dengan bola,” kata Perrotta.

Mainkan Taruhan Laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Sekarang!

Berita Terbaru