
Musibah cedera
Timnas Maroko menghadapi situasi rumit menjelang pertandingan melawan Niger dan Zambia pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Afrika 5 September 2025.
Ada beberapa pemain utama yang akan absen karena cedera dan masalah kesehatan. Mereka adalah Noussair Mazraoui (Man United), Abde Ezzalzouli (Real Betis), dan Amir Richardson (Fiorentina) yang kemungkinan besar tidak dapat memperkuat tim mereka di lanjutan Kualifikasi Zona Afrika.
Hal ini menyebabkan skuad Atlas Lions tidak memiliki opsi pemain unggulan di bagian pertahanan dan serangan.
Walid Regragui, pelatih timnas Maroko, diperkirakan akan memanggil Sofian Kiyine (Triestina, Serie C Italia) untuk menggantikan Mazraoui, sedangkan pemain muda Ilias Akhomach (Villareal) dapat mengisi posisi Ezzalzouli. Sementara itu, Neil El Aynaoui (AS Roma) akan segera menggantikan Richardson di lini tengah yang membawa semangat baru bagi Maroko.
Sementara itu, Chadi Riad (Crystal Palace), bek andalan Maroko, masih menderita cedera. Demikian pula dengan Romain Saiss (Al Sadd).
Hal ini membuat Regragui memutuskan untuk mengandalkan Abdelkabir Abqar (Getafe) dan Nayef Aguerd (West Ham United), sedangkan Ayman El Wafi (Lugano) juga akan dipanggil.
Meski begitu, tim pelatih melihat musibah cedera yang dialami para pemain andalan sebagai peluang untuk menambah stok pemain. Sekaligus menguji siapa saja yang layak membela Atlas Lions di Piala Dunia 2026.
Hanya butuh satu poin
Maroko menghadapi jadwal yang padat tahun ini. Selain Kualifikasi Zona Afrika, Atlas Lions juga berkompetisi di Kejuaraan Negara-negara Afrika (CHAN 2024) yang berlangsung 2 sampai 30 Agustus 2025 dengan tuan rumah Kenya, Tanzania, dan Uganda.
Stamina pemain dipertaruhkan karena mereka hanya punya waktu beberapa hari saja untuk beristirahat setelah Kejuaraan CHAN usai. Apalagi tanda-tanda kelelahan sudah mulai terlihat lantaran semifinalis Piala Dunia 2022 itu kalah 0-1 dalam laga perempat final CHAN melawan Tanzania pertengahan Agustus lalu.
Kabar baiknya, Maroko tidak perlu membanting tulang agar lolos Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dengan raihan 15 poin di puncak klasemen Grup I, skuad Atlas hanya butuh 1 poin untuk lolos Kualifikasi Zona Afrika dan berangkat ke Amerika.
Sesuai format Kualifikasi Piala Dunia 2026, grup I Zona Afrika seharusnya terdiri dari 6 tim; Maroko, Tanzania, Zambia, Niger, Kongo dan Eritrea. Eritrea mengundurkan diri sejak awal sebelum turnamen dimulai, lantaran khawatir para pemain mereka akan membelot saat bermain di venue di luar Eritrea.
Kongo dicoret dari Grup I pada Februari tahun ini akibat campur tangan pemerintah dalam federasi sepak bola nasional. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) membatalkan keikutsertaan Kongo dan memberikan kemenangan 3-0 untuk Tanzania dan Zambia pada laga tandang dan kandang yang seharusnya mereka lakukan melawan Kongo. Sebenarnya, FIFA telah membatalkan sanksi pada 14 Mei 2025.
Lantaran ketiadaan stadion yang layak untuk pertandingan internasional sebagai venue laga kandangnya melawan Niger, Kongo harus mengadakan pertandingan itu di RD Kongo. Kongo menolak bertanding di negara tetangganya, sehingga sekali lagi dihukum oleh FIFA yang memberikan kemenangan 3-0 untuk Niger.
Dicoretnya dua tim dari Grup I mempermudah langkah Maroko melenggang ke Amerika, sekaligus menghemat tenaga para pemain skuad Atlas Lions untuk laga-laga krusial Juni 2026 mendatang.
Uji coba stadion baru
Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) telah mengonfirmasi bahwa timnas Maroko akan menghadapi Niger dalam laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Afrika di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat.
Ini akan menjadi laga pertama Maroko di stadion yang belum lama ini direnovasi. Lapangan, infrastruktur, dan fasilitas baru bagi para penggemar dan media telah siap dipamerkan ke dunia internasional dan digunakan.
Presiden FIFA Gianni Infantino memuji stadion tersebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia, serta mengungkapkan harapannya agar Stadion Prince Moulay Abdellah akan mampu tampil sebagai ikon Maroko.
Stadion Prince Moulay Abdellah merupakan salah satu venue utama penyelenggaraan Piala Afrika 2025 dan Piala Dunia 2030, di mana Maroko akan menjadi tuan rumah bersama Spanyol dan Portugal.
Arena yang sedang dibangun ulang didesain dengan nuansa sepak bola dan berkapasitas 68.700 penonton. Proyek renovasi stadion ini diperkirakan akan selesai akhir 2025.
Di balik keberhasilan Maroko
Sepak bola Maroko terlihat cerah dalam beberapa terakhir, seiring dengan keberhasilan tim putra mencapai semifinal Piala Dunia 2022 Qatar. Di saat yang hampir bersamaan, tim putri Maroko berhasil lolos hingga 16 besar Piala Dunia Wanita, demikian pula tim U-17 Maroko yang tembus babak 16 besar Piala Dunia U-17.
Sementara tim U-23 Maroko berhasil memenangi Piala Afrika 2025, sebuah tiket untuk tampil di turnamen sepak bola Olimpiade 2026 di Italia.
Maroko juga berhasil memenangi Piala Konfederasi Futsal 2022, setahun setelah lolos babak perempat final Piala Dunia Futsal 2021.
Prestasi membanggakan yang datang bersamaan ini bukan saja pertama kalinya dicapai Maroko, tetapi juga sebuah prestasi yang belum pernah dicapai bangsa Afrika atau Arab mana pun. Hebatnya, semua diraih dalam waktu yang relatif singkat. Padahal prestasi negara yang saat ini bertengger di peringkat 12 FIFA tidak bisa dibilang istimewa dalam beberapa tahun silam.
Apa rahasia di balik kesuksesan Maroko?
Rencana jangka panjang
Keberhasilan Maroko pada 2022 dan 2023, serta terpilihnya skuad Singa Atlas tersebut menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bukan jatuh dari langit. Kesuksesan Maroko berawal dari rencana yang disusun secara cermat, sehingga membuahkan hasil bagi sepak bola Maroko. Dibarengi investasi olahraga yang bervisi jangka panjang, tren positif ini akan berlanjut di masa mendatang.
Seperti tim-tim lainnya di seluruh dunia, sepak bola Maroko pernah mengalami masa sulit. Setelah tersingkir dari babak penyisihan grup pada Piala Dunia 1998, Maroko gagal lolos kualifikasi Piala Dunia hingga 2018. Maroko juga tiga kali tidak lolos kualifikasi Piala Afrika 1994 dan 1996.
Situs resmi FIFA menilai, capaian buruk Maroko di tahun-tahun sebelumnya adalah sebagai akibat proses yang tidak terstruktur dengan baik dalam hal penyaringan, pengembangan dan profesionalisasi pemain.
Semuanya berubah berkat program baru yang digagas Presiden FRMF, Fouzi Lekja.
Infrastruktur kunci kesuksesan
Berkat Lekja, FRMF menjadi lebih fokus dalam pengembangan infrastruktur olahraga, antara lain dengan membangun beberapa stadion baru dan merenovasi stadion lama. Sembilan stadion venue Piala Afrika 2025 Maroko adalah hasil dari program ini.
Pada 2009, sepak bola Maroko berada di titik terendah. Raja Muhammad VI membangun akademi sepak bola dengan tujuan mengangkat pamor Maroko di cabang olahraga ini. Akademi ini bukan hanya mengajarkan tentang teknik sepak bola, tetapi juga pengembangannya. Jurusan khusus paramedis sepak bola juga dibuka di akademi ini.
Para pemain dari generasi emas pertama Maroko, seperti Youssef En-Nesyri (Fenerbahce), Hamza Mendyl (OH Leuven) , Nayef Aguerd, dan Azzedine Ounahi (Marseille) merupakan hasil didikan akademi yang menelan biaya pembangunan sekitar 13 juta euro.
Merekrut pemain diaspora
Maroko merupakan wilayah jajahan Prancis selama 40 tahun (1912 – 1956), dan Prancis merekrut banyak orang Maroko untuk berperang membela Prancis dalam Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, mereka membawa keluarganya ke Eropa dan tinggal sebagai diaspora. Berkat kemampuan Bahasa Prancis yang baik, mereka cukup diterima dan tersebar di berbagai negara Eropa.
FRMF menelusuri para pesepakbola diaspora Maroko di Eropa, mendekati, lalu membujuk mereka untuk bermain membela tanah leluhurnya. Berkat strategi ini, Maroko dapat diperkuat beberapa pemain seperti Hakim Ziyech, Sofyan Amrabat, Nordin Amrabat, Achraf Hakimi, dan Noussair Mazraoui, yang membawa Maroko finis keempat di Piala Dunia 2022.
Achraf Hakimi, kapten Atlas Lions, misalnya, merupakan keturunan imigran Maroko di Spanyol yang menempuh pendidikan sepak bolanya di Akademi Sepak Bola Real Madrid sejak usia 8 tahun. Pencapaian gemilangnya bersama timnas Maroko membuatnya jadi incaran klub-klub top Eropa, termasuk Paris St.Germain, di mana ia ikut berperan mengantarkan tim Prancis itu memenangi Liga Champions 2025.
Namun, upaya perekrutan pemain diaspora ini tidak selamanya berhasil. Lamine Yamal, bintang baru Barcelona FC, sesungguhnya merupakan pemain berdarah Maroko. Namun, ia memilih membela Spanyol daripada tanah leluhurnya, walaupun telah dibujuk dengan susah payah oleh FRMF.
Prediksi starting XI Atlas Lions
Bounou; Hakimi, Aguerd, Abqar, El Wafi; Ounahi, Amrabat, Saibari, Nadir; En-Nesyri, Diaz.
Afrika menyimpan banyak talenta sepak bola yang siap bersinar. Cek jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 CAF agar tak melewatkan aksi mereka.