
Upaya hentikan kiprah Israel di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dilaporkan mendapat tekanan dari berbagai pihak untuk menjatuhkan sanksi atas tim nasional Israel sesegera mungkin, terkait konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah.
Dilansir dari The Guardian, UEFA diperkirakan akan mengadakan pemungutan suara yang melibatkan seluruh anggotanya guna menentukan nasib Skuad The Blues di Piala Dunia 2026. Pemungutan suara itu nantinya juga akan menentukan apakah klub Maccabi Tel Aviv masih dapat mengikuti kompetisi Liga Eropa yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Pihak-pihak yang meminta UEFA dan FIFA mengambil tindakan serupa yang pernah dan sedang dijatuhkan atas Rusia berasal dari luar lapangan bola. Beberapa waktu lalu, sekelompok diplomat membuat pernyataan terbuka agar UEFA dan FIFA segera menjatuhkan sanksi atas Israel, setelah Sidang Umum PBB pada September 2025 menyatakan Israel telah melakukan genosida di Gaza.
Sejumlah pihak juga melakukan aksi seruan boikot timnas Israel. Salah satunya adalah kampanye Game Over Israel yang memajang himbauan agar berbagai federasi sepak bola menolak bermain melawan timnas Israel. Himbauan ini menghiasi papan-papan reklame di New York’s Times Square beberapa waktu lalu dan mendapat sorotan internasional.
Meski demikian, tak semua pihak menganggap seruan itu efektif. Presiden Federasi Sepak Bola Italia Gabriel Gravina, misalnya, berpendapat bahwa aksi boikot apa pun terhadap Israel bisa menjadi pemacu semangat tim Israel untuk tampil lebih baik agar lolos kualifikasi.
Meskipun berhasil menang tipis 5-4 atas Israel di lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa, posisi Italia belum aman sepenuhnya dan masih harus menghadapi laga kandang melawan The Blues 14 Oktober mendatang.
Tersingkir dari posisi runner up klasemen sementara Grup I, Israel masih berpeluang lolos Piala Dunia 2026 dengan bertanding di babak playoff. Sesuai format Kualifikasi Piala Dunia 2026, Zona Eropa mendapat jatah 16 tim di babak final Piala Dunia 2026. Dari jumlah itu 12 tim merupakan juara satu dan dua masing-masing grup, sedangkan dua lainnya merupakan tim yang menang di babak playoff antar konfederasi.
Intervensi dari luar lapangan bola
Meskipun dasar seruan boikot Israel berlatar belakang kemanusiaan, tak mudah bagi UEFA dan FIFA membatalkan partisipasi Israel di berbagai laga internasional. Keputusan untuk menonaktifkan timnas Israel harus disetujui secara mutlak oleh 19 anggota komisi eksekutif UEFA. Walaupun mayoritas anggota akan menyetujuinya, akan ada konsekuensi politik yang harus ditanggung.
Amerika Serikat, tuan rumah Piala Dunia 2026, dengan tegas menolak segala upaya yang bertujuan menjatuhkan sanksi atas Israel. “Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan segala upaya yang bertujuan melarang Israel berlaga di Piala Dunia,” tegas juru bicara Departemen Dalam Negeri AS, tak lama setelah berita seputar seruan memboikot timnas Israel beredar di berbagai media.
Mencoret Israel artinya UEFA mencoret peserta kompetisi FIFA. Sedangkan Presiden FIFA Gianni Infantino diketahui memiliki hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) menuntut agar FIFA melakukan penyelidikan atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Federasi Sepak Bola Israel (IFA). PFA menuduh IFA telah menyelenggarakan beberapa pertandingan di wilayah pemukiman ilegal.
“Seharusnya Israel dilarang mengikuti pertandingan apa pun, baik di bawah FIFA maupun UEFA,” tegas presiden PFA Jibril Rajoub. “Israel telah melanggar prinsip, nilai, dan statuta FIFA. Oleh karena itu, seharusnya sanksi dijatuhkan atas Israel. Saya harap UEFA mengikuti statuta tersebut.”
Sanksi Rusia
Sekitar satu dekade lalu, turnamen olahraga dipandang sebagai sarana mempersatukan dunia. Apalagi bila kita berbicara tentang turnamen sepak bola seperti Piala Dunia.
Tak dapat dipungkiri bahwa sepak bola merupakan cabang olahraga yang disukai semua orang di berbagai belahan dunia. Piala Dunia adalah saat di mana para fans dapat mengalihkan perhatian mereka dari keruwetan politik, sosial, dan ekonomi, guna memusatkan perhatian pada sepak terjang tim-tim raksasa sepak bola selama satu bulan penuh.
Sampai setidaknya tiga tahun lalu, ketika Rusia ‘dihadiahi’ sanksi larangan berlaga di semua turnamen seluruh cabang olahraga di berbagai kategori usia dan gender.
Larangan juga mencakup larangan menjadi tuan rumah kompetisi internasional seluruh cabang olahraga. Simbol-simbol negara Rusia, seperti bendera dan lagu kebangsaan, dilarang dikumandangkan apabila tim atau atlet Rusia bertanding di turnamen apa pun.
Tiga tahun setelah sanksi dijatuhkan, perang masih berlangsung di Ukraina dan belum ada tanda-tanda kapan berakhir.
‘Tragedi’ Piala Dunia U-20 2023
Sentimen anti Israel di Indonesia berakar dari rasa persaudaraan sebagai sesama bangsa dengan Islam sebagai agama mayoritas. Presiden pertama RI Sukarno tercatat sebagai tokoh pertama yang menggaungkan sentimen ini ke seantero negeri di masa awal kemerdekaan Indonesia.
Sejak itu, bangsa Indonesia konsisten memendam perasaan sebal tiap kali mendengar kata ‘Israel’ dan ‘Yahudi’, walaupun mereka tidak pernah secara langsung terlibat dalam menjajah Indonesia di era kolonial.
Berlalunya waktu seharusnya membuat kita lebih arif dalam memandang persoalan, dan pengambilan keputusan sebaiknya didasari banyak pertimbangan. Bukan sekadar dorongan emosional, meski ada nuansa kemanusiaan di dalamnya.
2023 silam, Indonesia berbangga hati menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Berbagai persiapan telah dilakukan, mulai pengalokasian dana triliunan rupiah, renovasi stadion, hingga pembuatan suvenir acara yang akan melibatkan beberapa kota di Indonesia.
Suara-suara kritis dari dalam negeri terkait keikutsertaan Israel dalam turnamen itu membesar akibat, lagi-lagi, politik dalam negeri yang sedang bersiap-siap menyambut pemilu. Sejumlah partai berlomba-lomba menarik simpati masyarakat dengan melempar bola-bola panas seperti isu Palestina, misalnya.
FIFA menanggapi serius gerakan boikot timnas Israel oleh sejumlah kalangan di Indonesia, yang berujung dicoretnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Keputusan FIFA berakibat serius, karena mendatangkan kerugian sebesar Rp 3,18 triliun, atau setara dengan 0,016 persen PDB Indonesia pada 2022.
Politik dalam sepak bola, yay or nay?
Rusia bukan satu-satunya negara yang dibekukan dari turnamen olahraga internasional akibat sepak terjang pemerintahnya. Afrika Selatan pernah mengalami hal serupa pada 1961 akibat diskriminasi rasial di dalam negeri.
Akan tetapi, Jerman masih dapat tampil di Piala Dunia 1938 ketika Nazi berjaya. Sanksi tidak dijatuhkan kepada Prancis di era Piala Dunia 1950-an, walaupun negara itu terlibat dalam perseteruan berdarah di Aljazair dan Indochina. Junta militer Argentina juga tidak dihukum, meski terang-terangan menangkap dan mengeksekusi warganya sendiri di dalam stadion seusai laga Piala Dunia 1978. Dan banyak lagi.
Dilansir dari The Conversation, mustahil sepak bola terlepas dari politik. Pemerintah suatu negara cenderung merayakan keberhasilan atau prestasi tim nasional mereka sebagai keberhasilan bersama. Masyarakat global juga akan memandang negara yang bersangkutan dengan penuh kekaguman.
Prestasi sepak bola Rusia dan keberhasilan para atlet Rusia di berbagai cabang olahraga lainnya dikhawatirkan dapat menumbuhkan perasaan bangga terhadap negara di hati rakyatnya. Demikian pula penggunaan lambang-lambang negara di turnamen internasional.
Sejumlah pihak cemas kebanggaan semacam itu pada gilirannya akan memengaruhi objektivitas Rusia untuk menyadari bahwa keputusan melakukan operasi militer di Ukraina adalah suatu pelanggaran terhadap hukum internasional. Walaupun Rusia memiliki argumen kuat atas serangan tersebut.
Israel dipandang tidak pantas mendapat hukuman seperti Rusia, karena Israel terlebih dulu diserang oleh Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan itu membuat Israel menggencarkan aksi balasan besar-besaran yang mengundang kecaman dunia internasional.
Inilah yang menyebabkan Amerika Serikat lebih berpihak pada Israel dalam hal sanksi sepak bola, meskipun Presiden Trump juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Peran turnamen sepak bola dalam perdamaian dunia
Terlepas dari berbagai alasan yang melatarbelakangi pembekuan suatu negara dari turnamen olahraga internasional, kita perlu memutar ulang sejarah untuk mengetahui mengapa turnamen olahraga antar negara diadakan.
Selain mengukir prestasi dan unjuk kekuatan, alasan utamanya adalah membangun persatuan dan saling mengenal antar bangsa sembari berkompetisi di arena olahraga. Ironisnya, dua tujuan utama ini telah luntur. Turnamen internasional dewasa ini hanya sebatas ajang unjuk kekuatan dan tebar pesona.
Jangan sampai embargo olahraga yang dijatuhkan kepada bangsa mana pun membawa kerugian besar bagi pihak yang memberlakukannya. Atau, lebih parah lagi, sanksi olahraga malah membuat sepak terjang bangsa tersebut menjadi-jadi dan perdamaian tak pernah tercipta sebagai akibat reaksi berlebihan dari kita sendiri.
Bukan sepakbola namanya bila tidak ada drama. Intip jadwal Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa untuk menyaksikan episode drama lapangan bola berikutnya.